Posted in FanFiction

[FF Request] Wild and Young –Oneshoot

wild-and-young

Wild and Young

AKB48’s Mayu and Haruna, EXO’s Baekhyun

Oneshoot | General | Friendship | Cover by kissmedeers @ Cafe Poster

[All casts belong to God. Own this story and don’t claim as yours]

sonjimoon’s present

.

“Jadi? Menikah adalah impian terbesarmu?”

“Aku tidak suka jika seseorang mengatakan hal-hal negatif di hadapanku.”

“Komentarmu di awal tadi membuatku berpikir ulang. Dengan imej dan penampilanku yang seperti ini, mana mungkin cocok dengan gitar listrik.”

“Menjaganya, berarti sama saja dengan menjaga Mayu.”

***

Aku hanya menatap kosong pada pemandangan di hadapanku saat ini. Pintu kamar mandi baru saja menganga di hadapanku, memperlihatkan sesosok gadis yang penampilannya berubah drastis daripada lima menit yang lalu. Satu-satunya yang tidak berubah adalah gitar akustik yang tersimpan rapi dalam tas yang dia gendong.

“Apa?”

Aku terlonjak, menatapnya. Dia membalas mataku dengan tatapan yang bisa saja berarti ‘apakah-kamu-hanya-makan-sebutir-nasi-hari-ini?’.

“Kamu … sangat berbeda,” akhirnya mulutku bersuara.

“Katakan hal tadi saat aku masih memakai benda ini,” dia mencampakan sebuah dress biru muda di lantai. “Ayo pergi. Aku tidak ingin nomorku terlewat.”

Gadis itu berjalan mendahuluiku, meninggalkan kamar mandi yang senyap. Selama beberapa saat aku mematung di tempatku, terfokus pada dress yang teronggok itu.

Oh ayolah! Itu dress buatan desainer ternama dengan harga fantastis yang batal kubeli kemarin lusa!

Tanpa berkata apa-apa, aku berjalan menyusul gadis tadi menuju ruang tunggu. Tapi dia tidak ada di sana, jadi kusimpulkan orang itu sudah terpanggil nomornya dan sedang berada di dalam venue.

Beberapa saat kemudian, pintu kokoh di ujung ruangan terbuka. Ternyata benar, yang muncul selanjutnya adalah gadis itu. Wajahnya masih sama: dingin dan keras. Dia menatap tajam ke arah orang-orang yang memandangnya dengan penuh rasa penasaran.

“Seratus dua!”

Lagi-lagi aku terlonjak. Sedikit terburu-buru, aku memasuki venue sambil menjinjing tas biolaku. Untuk sesaat aku melupakan gadis itu, ganti memikirkan degup jantungku yang semakin lama semakin keras.

Konnichiwa,” aku menunduk dengan gugup di hadapan tiga orang dewasa bertampang serius itu.

“Siapa namamu?” tanya yang paling kiri. Oh God! Ternyata rumor yang beredar benar jika Hideto Takarai–vokalis band L’Arc-en-Ciel–adalah jurinya! Dan dia menanyakan namaku!

Wa-watasiwa … Watanabe Mayu.”

Cute name,” bahkan komentarnya membuatku nyaris mati.

“Apa yang akan kamu tunjukan?” tanya satu-satunya juri wanita yang duduk di tengah. Dia sangat  cantik–oke, aku iri.

Seharusnya dia tidak perlu bertanya, sudah jelas dengan biola yang kutenteng ini. “Bermain … biola.”

“Oke, silakan.”

Bagaimana kalau kita lewati bagian ini? Permainanku tak kunjung membaik sejak berlatih sebulan yang lalu dan sangat memalukan apabila dideskripsikan.

Tapi–seperti keajaiban dalam film–aku berhasil lolos. Yah … aku tak menyangka. Bahkan sampai tertidur pada malam harinya, aku masih berpikir bahwa otak para juri itu tidak ada yang beres.

*

“Apa!?”

Atsuko menusuk-nusuk lengan atas Mayu. Gadis itu langsung duduk tegak dan menatap teman semejanya dengan dahi berkerut. Atsuko hanya menjawab dengan isyarat berupa memaju-mundurkan dagunya.

Mayu mengikuti arah pandangan gadis berambut pendek itu. Ternyata Takahashi Sensei sudah memasuki kelas. Tapi guru muda itu tidak sendirian.

Sudah bisa ditebak jika orang yang datang dengan Tkahashi Sensei adalah murid baru. Rambutnya yang kecoklatan dikucir satu dan posturnya tidak terlalu tinggi. Gadis itu menatap ke arah jendela tanpa mempedulikan anak-anak di kelas barunya.

“Namaku Kojima Haruna.”

Hening. Semua anak saling bertatapan, bahkan Takahashi Sensei tampak kebingungan.

Pertama kalinya dalam hidup Mayu, dia melihat seorang murid baru yang memperkenalkan diri hanya dengan nama dan langsung duduk tanpa dipersilakan. Seisi kelas memperhatikan penghuni baru itu, tapi dia malah melayangkan pandangan ke arah lain.

“Apa? Kenapa pelajarannya tidak dimulai?” tanya Haruna.

Takahashi Sensei berdehem–semacam mengembalikan kewibawaannya. Beberapa saat selanjutnya pelajaran dimulai dengan … normal? Mungkin kali ini sedikit berbeda, karena kelas Taka Sensei (lebih menyenangkan disebut begitu) yang biasanya serius menjadi meriah.

“Ooh … tidak bisakah kita langsung ke pelajaran berikutnya?” Haruna merenggangkan otot-otot lengannya dengan malas.

“Boleh saja. Setelah kamu menjawab pertanyaanku dengan benar.”

Jawaban dari Taka Sensei membangkitkan gairah semangat ana-anak. Tentu saja, karena pelajaran bahasa asing teramat membosankan, dan waktunya masih satu jam lagi. Tapi pelajaran berikutnya adalah … musik!

“Artikan kalimat ini, dan jelaskan verbanya,” spidol di tangan guru itu berputar melingkari sebaris kalimat.

Suasana berubah tegang. Tunggu, Mayu ingin tertawa karena kelasnya tak pernah mengenal kata tegang.

“Itu …” terdengar gumaman Haruna.

Yeaaay!!!

Bravo!

“Ayolah, aku merindukan biola itu.”

“Yuuko-chan, cepat! Kamu janji akan mengajariku saxophone!

“Itu mengagumkan,” kata Takahashi Sensei saat kelas nyaris kosong. “Aku tidak tahu jika kamu bisa menjawabnya dengan cepat dan benar.”

“Sekarang Sensei tahu,” Haruna terdengar santai. “Awalnya kupikir Sensei menyebalkan. Tapi, terima kasih!”

Sepertinya hari ini akan menjadi sejarah–anak-anak kelas 2-4 bebas dari pelajaran bahasa! Ini menarik perhatian kelas lain, yang membuat mereka lebih tertarik pada keramaian kelas 2-4 daripada pelajaran.

“Wah … kamu harus melakukannya setiap hari!” seorang anak laki-laki menepuk bahu Haruna.

“Aku melakukannya karena selanjutnya pelajaran musik. Kalau matematika, atau IPA, tidak akan kulakukan,” balas Haruna.

“Sebenarnya … dulu kamu bersekolah di mana?” tanya seorang anak perempuan.

“Sebuah sekolah yang menyenangkan di Seoul,” jawab Haruna.

“Seoul? Korea??”

Haruna mengangguk. “SOPA, sekolah seni yang menyenangkan. Sayang aku harus pindah ke sekolah umum.”

*

Eung …

Mayu berhenti di tengah-tengah kantin, sejak semenit yang lalu kepalanya tidak berhenti celingukan. Nasi, sup, dan daging asap yang belum dia sentuh mulai mendingin di atas nampan yang dia genggam sedari tadi.

Mata gadis itu membulat ketika menemukan sebuah kursi kosong–satu-satunya yang tersisa. Dia buru-buru mendatangi kursi itu, mengingat waktu istirahat tinggal seperempat jam lagi.

Baru saja akan duduk, gadis itu berhenti. Dia menatap orang lain yang duduk di hadapannya–sedang serius makan–yang tampaknya tidak menyadari keberadaan Mayu. Mayu berdehem singkat, tapi orang itu tetap tidak bergeming.

“Bisakah … aku duduk di sini?”

Orang itu mendongak, mulutnya penuh dengan hidangan penutup. “Untuk apa minta izin?”

Merasa lega, Mayu duduk di kursi itu dan mulai makan. Tapi berulang kali matanya melirik orang itu. “Namaku …”

“Watanabe Mayu. Kita sekelas,” potong orang itu.

“Oh, baik,” kata Mayu gugup. “Tadi permainan gitarmu bagus sekali.”

“Terima kasih,” orang itu bangkit berdiri, tidak lupa dengan nampannya dan meninggalkan Mayu.

Mayu berbalik dan terus menatap orang itu sampai di meja pemesanan untuk membayar. Gadis itu kembali fokus pada makan siangnya, mengeluh.

*

Mayu menggigit bibir bawahnya sementara matanya menelusuri kalimat-kalimat yang tercetak di sebuah kertas putih. Tangannya sedikit gemetar, dan keringat terus mengalir. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa segugup ini.

Gadis itu duduk di tepi kasurnya, menatap ke pojok kamar. Biolanya masih di sana, balas menatapnya dengan pandangan kosong. Mayu menghela nafas panjang, lalu meraih instrumen itu. Dagunya baru saja mengapit ujung biola itu ketika dia mendengar suara lain–

 

kimi ga ita keshiki wa nukumori to yasuragi irodori
hajimete shitta koi no kaori ga shita
mabushii hizashi abite nani mo osorezu ni ita keredo
sono akarusa wa kage wo mienakushita

–diiringi petikan dawai yang menembus telinganya. Untuk sesaat Mayu seperti tersihir, tapi kemudian …

Aku tidak punya gitar di rumah …

Mayu membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Dia celingukan di bawah, dan akhirnya menemukan apa yang dia cari. Seseorang duduk di belakang sebuah pohon, walaupun Mayu hanya bisa melihat kepala gitarnya. Entah apa yang mendorong gadis itu, dia segera turun.

“Haruna-chan …?”

Lagu itu langsung berhenti. Orang yang duduk di balik pohon itu menoleh, ekspresinya sedater layar smartphone. “Apa?” katanya.

“Benar-benar Haruna-chan?”

“Siapa lagi?” dahi Haruna berkerut. “Dan kenapa … wajahmu seperti tikus kecil ketakutan?”

Mayu terbelalak. “Itu … aku …”

“Takut aku akan mengahajarmu seperti anak di kantin tadi siang?” tebak Haruna. “Kendalikan saja dirimu, maka aku tidak akan melakukannya.”

Dalam hati Mayu mengiyakan ucapan Haruna. “Rumahmu … di sekitar sini?”

Haruna mengangguk. “Kaget? Aku sudah tahu di mana kamu tinggal.”

“Lalu … sedang apa di … hey!” Mayu berlutut dan meraih selembar kertas di samping Haruna. Kertas yang sama, yang membuat kepalanya pusing. “Kamu … ikut audisi itu juga?”

Tidak ada jawaban. Mayu menatap Haruna dengan penasaran, dan Haruna menatap lawan bicaranya dengan tatapan seakan dia salah dengar. Tapi detik berikutnya, gadis itu malah tertawa keras.

“Kamu tidak mengenaliku?” kata Haruna disela tawanya.

“M-maksudmu?”

“Ingat gadis yang kau antar ke kamar mandi saat audisi?”

Mayu mengangguk dengan polos.

“Itu aku.”

Mayu meneriakan “Apa!?” tanpa suara. Dia menatap Haruna tanpa berkedip, membuat tawa gadis itu semakin keras.

“Tapi … kenapa terlihat berbeda? Maksudku …”

“Yah … gara-gara make up sialan itu,” kata Haruna. “Melepas gaunnya saja sudah cukup merepotkan. Waktuku akan terbuang hanya untuk menghapus make up-nya.”

“Tunggu. Kamu lolos kan?”

“Tentu saja!” Haruna tampak girang. “Aku tahu kamu juga akan lolos.”

“Tapi … aku tidak siap dengan ini,” Mayu mengangkat kertas itu. “Ooh, aku harus tampil di depan banyak orang! Aku tidak berani. Bagaimana jika mereka menertawakanku??”

Baka,” Haruna memutar posisi duduknya, menatap Mayu. “Aku akan membunuhmu jika mengatakannya lagi.”

“Huh?”

“Aku tidak suka jika seseorang mengatakan hal-hal negatif di hadapanku. Buang itu jauh-jauh, sebelum aku menjahit mulutmu.”

Mayu tidak menyalahkan dirinya sendiri kenapa dia takut pada Haruna. Belum lagi, dia mengatakannya dengan mimik serius.

“Ooh, oke. Baiklah, tidak akan lagi. Tapi …”

“Waktunya dua jam lagi, kan?” potong Haruna. “Aku harus berangkat ke studio itu. Aku tidak mau terlambat.”

“Eh tapi …”

“Apa?”

“Umm, tidak. Lupakan saja. Sampai jumpa di sana.”

Kemudian dengan menggandeng gitarnya, Haruna meninggalkan pohon itu dengan Mayu yang masih duduk di bawahnya.

.

Entah untuk yang keberapa kalinya, Mayu kembali dibuat kagum dengan kelihaian jari-jari lentik Haruna. Dia juga mengagumi bagaimana cara gadis itu memperlakukan penonton di hadapannya: cuek.

Permainan itu selesai dan venue kembali riuh dengan tepuk tangan. Haruna membungkuk singkat sambil menggumamkan terimakasih, lalu kembali ke tempat duduknya, di tengah-tengah penonton.

Pembawa acara bertubuh gempal itu kembali meneriakan sebuah nama. Selama beberapa menit tidak ada yang beranjak dari kursinya–semua orang saling pandang–sebelum akhirnya …

Pintu venue terbuka secara tiba-tiba. Pandangan setiap pasang mata mengarah ke sana–ke arah seorang laki-laki berambut hitam. Tampangnya seperti orang yang habis melakukan lari pemanasan mengelilingi lapangan bola.

“M-maafkan aku, apakah …”

Semua orang segera tahu jika posisi laki-laki itu sama seperti Mayu dan Haruna–dia juga peserta. Dan namanya adalah yang terpanggil barusan.

Enam buah kursi memisahkan jarak antara Mayu dan Haruna. Walau begitu, Mayu masih bisa melihat dengan jelas wajah Haruna–tidak, dia tidak sengaja melihatnya. Haruna terlihat seperti … gabungan antara marah dan sedih? Entahlah, di mata Mayu dia tidak terlihat seperti Haruna yang biasanya.

Laki-laki yang terlambat itu segera menaiki panggung, menggumamkan maaf pada siapa saja yang mau mendengarkan.

Tidak terlihat seperti orang Jepang, Mayu bergumam dalam hati. Ooh tidak tidak. Kenapa wajahnya begitu manis? Mayu-chan, sadar!

Suara merdu langsung memenuhi venue, menyihir setiap orang yang mendengarnya. Mayu tertegun, bahkan suara itu terdengar lebih dalam daripada suara Hideto. Ooh tidak, jangan lagi Mayu-chan. Jangan!

Skill menyanyi laki-laki itu rupanya menjadi permintaan maaf yang manjur. Bahkan para juri ikut senang saat bertepuk tangan bersama para penonton. Sekali lagi, tanpa sengaja Mayu menatap Haruna.

Pandangan Haruna tampak kosong dan dia memangku tangannya. Satu-satunya yang tidak memberikan aplaus adalah dia. Tapi kenapa?

Bang!

Acara telah selesai, dan Mayu ingin cepat-cepat sampai rumah–dia lapar. Tapi ketika sedang berdesakan dengan orang-orang yang ingin keluar venue, dia malah menabrak seseorang–atau mungkin sebaliknya–dan menyebabkan tas biola-nya jatuh.

Mayu speechless. Biolanya keluar, dan dua buah dawai putus. Belum lagi tongkat penggeseknya nyaris menjadi dua. B-bagaimana bisa …?

“M-maafkan aku!”

Mayu tidak peduli. Dia berlutut dan membereskan itu semua sambil menahan tangis. Tangannya sedikit bergetar. Kalau ini bukan benda kesayangannya, dia tidak akan merasa seperti ini.

“Apakah rusak? A-aku akan menggantinya.”

Mendengar kalimat itu, Mayu menegakan lehernya. Dia menangkap mata seseorang yang juga menatap matanya.

“A-aku akan menggantinya. Beri tahu alamat rumahmu, atau sesuatu yang bisa dihubungi. Aku janji akan menggantinya,” ulang orang itu. Suaranya terdengar bersungguh-sungguh.

Tidak ada suara keluar dari mulut Mayu. Dia hanya diam–kaget. Dia bahkan menganggukan kepala secara tidak sadar ketika orang itu mengajaknya–dan menarik tangannya–keluar venue.

*

Paha Mayu bergetar hebat. Bukan karena dia gugup, tapi ponselnya yang menimbulkan getaran itu. Dia merogoh saku roknya, dan menyembunyikan benda itu di laci meja.

Kenapa menelepon di jam pelajaran!?

Mayu men-decline panggilan itu dan mengetik pesan tanpa melihat layar, sementara matanya tetap fokus pada pelajaran di depan.

“Ada apa?” bisik Atsuko tepat di telinganya. Mayu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

“Mayu-chan, ada baiknya kamu simpan ponsel itu.”

Hening. Mayu membeku di tempatnya, dipandang setiap pasang mata yang berada di kelas–termasuk Yamada Sensei. Dia menoleh ke samping, tapi orang yang dipandangnya tampak santai sambil menggoyangkan kursinya.

“Bermain ponsel saat jam pelajaran?” Yamada Sensei sudah tiba di samping Mayu. Telapak tangannya terbuka lebar–siap menerima.

Karena tidak bisa berbohong, maka Mayu meletakan ponselnya di sana dengan pasrah. Dia mendesah kecewa saat Yamada Sensei baru akan memberikan ponselnya sepulang sekolah. Padahal … ini baru jam sepuluh pagi.

Gomennasai.”

Mayu menoleh. Dia tahu Haruna yang mengucapkannya–untuknya. Mayu hanya mengangguk kecil, dia tahu Haruna punya alasan kuat membuat Mayu menyerahkan ponselnya pada guru.

Baekhyun-san, aku akan menghubungimu nanti.

.

“Kenapa teleponku tidak diangkat?”

“Maaf. Lagipula …”

“Sebentar. Aku tidak ingin dengar alasan. Sekarang ada hal yang lebih penting,”potong laki-laki itu.

Mayu hanya menatapnya dengan sedikit takut. Dia adalah laki-laki yang terlambat memasuki venue–yang menabraknya–yang berjanji akan mengganti biolanya–yang belakangan ini diketahui bernama Byun Baek Hyun.

“Final-nya, empat hari lagi kan?”

Mayu mengangguk. Dia dan Baekhyun adalah salah dua peserta yang berhasil lolos ke babak akhir.

“Aku telah memaksa penjual biolanya, dan baru akan selesai seminggu lagi.”

“Apa?” ucap Mayu tanpa suara. “B-bagaimana bisa? A-aku bahkan butuh waktu untuk berlatih! Belum lagi di babak akhir itu setiap peserta juga harus tampil beregu kan?”

“Lagipula kenapa kamu menolak untuk dibelikan? Memperbaiki justru lebih memakan waktu.”

“Tidak bisa!” Mayu berteriak. “I-itu benda kesayanganku! Aku tidak ingin penggantinya!”

Baekhyun menghela nafas dengan pasrah. Dia menatap mata Mayu yang sekarang berapi-api. “Begini saja. Di final nanti, bagi yang bermain musik, boleh mengganti instrumennya. Kamu bisa memainkan alat musik lain, kan?”

“Aku lebih bersahabat dengan biola.”

“Kenapa tidak dicoba dulu?”

“Aku hanya punya biola, yang sekarang rusak itu!”

“Kalau begitu, ikut aku.”

Sebelum Mayu sempat bertanya “Ke mana?”, Baekhyun sudah menarik tangannya. Mayu berusaha melepaskan tangannya, karena laki-laki itu membawanya ke arah yang berlawanan dengan rumahnya.

Setelah beberapa saat, Baekhyun menghentikan langkahnya secara tiba-tiba–membuat Mayu nyaris menabarak punggungnya. Tanpa mengatakan apa-apa, Baekhyun membawa Mayu masuk ke dalam sebuah rumah besar di hadapan mereka.

“I-ini …”

“Rumahku,” potong Baekhyun. “Sebenarnya milik kakekku. Tapi dia sedang tidak di sini. Aku akan menunjukan sesuatu padamu.”

Mereka menaiki sebarisan anak tangga yang memutar, lalu tiba di lantai dua. Baekhyun membuka salah satu pintu, dan meminta Mayu untuk masuk.

“Studio pribadi?” Mayu tak percaya.

Baekhyun mengangguk, senang melihat respon terkejut Mayu. “Aku jarang memakai tempat ini. Tapi banyak alat musik di sini, mungkin bisa kamu coba.”

Mayu memandang berkeliling. Instrumen-instrumen mengkilap seakan menyapa kedatangannya. Semuanya terlihat terawat dengan baik. Tapi …

“Tidak ada biola?”

“Lebih tepatnya, tidak ada alat musik klasik selain gitar akustik dan piano,” ralat Baekhyun. “Ayolah, paling tidak ada satu yang kamu bisa selain biola!”

“Sebenarnya,” Mayu berjalan ke sudut ruangan. “Aku bisa dengan ini.”

Baekhyun terbelalak. “Perempuan sepertimu bermain itu?”

Mayu tersenyum lalu mengambil gitar listrik itu. “Ada yang salah?”

“Lihat dirimu!” Baekhyun mendekati Mayu. “Aku bahkan tidak pernah meihatmu memakai celana–atau memang tidak pernah? Dan wajahmu … oke, jujur saja, terlalu innocent untuk memegang alat musik keras.”

Untuk pertama kalinya di depan seorang laki-laki berstatus teman, Mayu tertawa. Dia mengalungkan gitar itu, mengatur kabelnya, dan mulai bermain.

“Kuharap kamu tahu lagu ini.”

Baekhyun duduk di atas perkusi dan mulai mendengarkan. Mayu mulai mengaitkan jemarinya pada dawai gitar tersebut, dan sebuah lagu mengalun memenuhi studio kedap suara itu.

Selama sesaat Baekhyun termenung. Dia seperti pernah mendengar instrumen lagu ini sebelumnya–tapi lupa judul dan penyanyinya.

“Bagaimana?”

“Ah!” Baekhyun menjentikan jarinya. “Itu … I Got a Boy dari So Nyeo Shi Dae?”

Mayu mengangguk sambil tersenyum. Dia membenahi gitar itu kembali pada tempatnya, kemudian ekspresinya berubah drastis. “Menunjukannya di hadapan satu orang tidak masalah. Tapi aku tidak berani di depan banyak orang.”

“Oh ayolah. Kamu hebat, Mayu-ssi! Pasti bisa!”

Tapi Mayu tetap menggeleng. “Komentarmu di awal tadi membuatku berpikir ulang. Dengan imej dan penampilanku yang seperti ini, mana mungkin cocok dengan gitar listrik.”

Baekhyun bangkit dan berdiri tepat di hadapan gadis itu. Mayu terkejut ketika Baekhyun mencengkeram kedua lengan atasnya, dan berbicara dengan wajah begitu dekat.

“Menurumu apakah fisik itu penting? Yang sedang kamu hadapi adalah pencarian bakat, bukan fisik! Kuncinya adalah percaya diri. Jangan katakana ha-hal negatif, buang jauh-jauh pikiran negatif itu!”

Mayu mematung di tempatnya. “Kata-kata itu … pernah Haruna ucapkan padaku.”

“Haruna? Siapa?”

“Temanku. Dia juga ikut ajang itu, bermain dengan gitar akustiknya.”

“Gitar akustik?”

Mayu mengangguk, heran dengan air muka lawan bicaranya yang berubah ngeri.

*

“Haruna-chan.”

Pemilik nama tersebut memalingkan mukanya sedikit, menaikan sebelah alis sebagai isyarat “Apa?” karena mulutnya terjejal roti yang belum dikunyah. Mayu membenarkan posisi duduknya, berusaha agar tidak canggung.

“Aku … bagaimana kalau kita satu regu untuk final?”

“Boleh saja,” Haruna menanggapi dengan santai. “Hanya kita berdua?”

Mayu menaikan kedua bahunya. “Tapi biolaku …”

“Ooh, aku melihatnya,” Haruna menyedot jus kotaknya. “Bagaimana kabarnya? Apakah orang yang merusaknya bertanggung jawab?”

“Untuk diperbaiki, butuh waktu seminggu,” kata Mayu. “Tapi yang menabrakku itu betu-betul baik hati. Dia mengusulkan untuk memainkan alat musik yang lain. Dan aku pikir … bagaimana jika dia juga seregu dengan kita?”

“Memang siapa orangnya?” Haruna sedikit heran karena nada bicara Mayu berubah menjadi bersemangat.

“Umm … pulang sekolah nanti aku akan menemuinya. Bagaimana jika kamu ikut? Lagipula … aku juga belum bilang kalau dia akan seregu dengan kita.”

“Kalau dia tidak mau?”

“Kurasa mau. Dia seperti tidak punya teman, dan kelihatannya buka berasal dari Jepang. Logat bicaranya sangat aneh.”

“Bukan dari … Jepang?”

Mayu mengangguk. “Kemarin aku diajak ke rumah kakeknya. Ada studio musik yang menyenangkan di sana! Mungkin jika kita seregu, tempat itu yang akan dijadikan tempat berlatih.”

“Menarik,” komentar Haruna sambil menghabiskan sisa jusnya.

.

Haruna bersendawa dengan keras, menyebabkan seluruh pengunjung kafe menatap ke arahnya. Gadis itu tampak tidak peduli, dan kembali meminum kopinya.

“Mana orang itu?” dia bertanya.

“Entahlah. Sudah setengah jam kita di sini dan dia belum datang,” Mayu tampak cemas. “Berhentilah minum, Haruna-chan. Lambungmu …”

“Salahkan saja temanmu itu kenapa terlambat,” kata Haruna.

Mayu membuka ponselnya, menyuruh orang itu agar cepat-cepat datang, paling tidak untuk menghentikan kegilaan Haruna yang sudah meminum tujuh gelas kopi. Baru saja pesan itu terkirim, sebuah tangan menekan bahunya.

“Maaf aku terlambat,” kata pemilik tangan itu. “Wow aku tak menyangka perutmu kuat minum se …”

Kilat mata Baekhyun berubah tajam seketika. Mayu yang keheranan menatap ke depan, dan Haruna juga memberi ekspresi yang sama. Dia memandang Mayu dan Baekhyun bergantian.

“Aku pergi,” tiba-tiba Haruna berdiri.

“Tunggu! Ada apa? Kenapa?” Mayu meraih tangan Haruna.

“Aku pergi!” tegas Haruna, menepis tangan Mayu.

“Kita sudah lama menunggu. Mau menyia-nyiakan begitu saja?”

Haruna terdiam, berbalik dan menatap Mayu. “Kenapa tidak bilang kalau orangnya adalah dia?”

“Eh?” Mayu terkejut. “K-kalian sudah saling …”

“Kita bertemu lagi, Kojiharu-ssi,” terdengar suara Baekhyun. Dia menarik sebuah kursi dan duduk dengan santai. “Jadi ini, teman seregu kita yang kamu ceritakan di telepon semalam?”

Mayu mengangguk kecil, dia ikut duduk. “K-kojiharu? Kamu memanggilnya Kojiharu?”

“Aku tidak senang melihatmu lagi, Baekki,” kata Haruna tajam.

“B-Baekki?” ulang Mayu. “Tolong jelaskan padaku. Sebenarnya ada apa? Kalian sudah saling kenal?!”

“Aku pernah bilang kalau aku berasal dari SOPA, Seoul.”

“Dan dia adalah mantan pacarku.”

Mata Mayu membulat. Akhirnya dia mengerti kenapa Haruna tidak bertepuk tangan saat Baekhyun tampil beberapa hari yang lalu. Dia hanya diam, masih dalam keterkejutannya. Haruna punya mantan pacar!

“Tidak perlu sekaget itu,” kata Haruna pada Mayu.

“Kurasa apabila kita berada dalam grup yang sama, kalau keadaannya seperti ini, tidak bisa berjalan dengan baik,” kata Mayu lirih.

Haruna dan Baekhyun sama-sama diam. Haruna masih dalam posisinya–berdiri–otaknya dipenuhi ingatan saat pertama kali bertemu Mayu. Haruna sangat percaya jika ada hantu di kamar mandi, dan itu–mungkin–satu-satunya yang dia takuti. Jika Mayu tidak menemaninya mengganti pakaian saat itu, Haruna tidak mau ikut ajang ini.

Baekhyun bersandar pada kursinya. Atmosfer kafe terasa membakar tenguknya. Mungkin jika saat itu dia tidak merusak biola Mayu, dia tidak akan punya teman sama sekali di Tokyo.

“J-jadi?”

Baekhyun menarik nafasnya. “Tidak masalah aku harus bekerja sama dengan orang itu lagi.”

“Aku menyesal mengatakan ini, tapi aku setuju,” kata Haruna.

Sorot mata Mayu berubah berbinar-binar. Dia nyaris tidak mempercayai apa yang dia dengar.

“Kita … akan bekerja sama? Oh, itu … wah!”

Untuk pertama kali dalam hidup Haruna dan Baekhyun, mereka melihat gadis sepemalu Mayu bersorak gembira.

*

“Untung kamu orang yang bertanggung jawab.”

Baekhyun tersenyum bangga. Mereka sedang berlatih dan ditinggal Mayu berdua karena dia harus memakai kamar mandi.

“Aku tidak pernah tahu jika Mayu bisa bermain alat musik lain.”

“Yah … dia harus berterimakasih padaku.”

“Kita yang harus berterimakasih padanya,” ralat Haruna. “Mungkin kalau tidak sadar apa yang pernah dia lakukan padaku, aku sudah mencongkel matamu.”

“Aku juga. Mungkin sudah …”

“Kalian tampak akrab, ya,” tiba-tiba Mayu muncul sambil tersenyum. “Biasanya hubungan mantan pacar itu tidak begitu baik.”

“Ahh sudahlah ayo kita mulai lagi,” Haruna berdiri dan membersihkan celananya.

“Dia hanya malu,” bisik Baekhyun di telinga Mayu.

“Jaga mulutmu, Byun Baekhyun,” kata Haruna tajam. Mayu hanya terkikik melihat tingkah kedua temannya.

Mereka bertiga membentuk formasi segitiga. Mayu dengan mainan barunya–gitar listrik, Haruna keyboard, dan Baekhyun di tengah sebagai vokalis dan juga bermain gitar akustik. Haruna sempat protes dengan alat musiknya, tapi akhirnya bisa dijinakan.

Waktu mereka tinggal hari ini, dan tidak boleh dibuang begitu saja.

.

“Haruna-chan, seandainya kita menang, apa yang akan kamu lakukan?”

“Uh?” Haruna menatap Mayu. Mereka hanya berdua saat ini. “Dengan uang itu? Membuat kafe impianku sendiri. Kamu?”

Mayu tertawa kecil. “Sedikit aneh, tapi aku punya impian besar. Sebelum meninggal nanti … aku ingin … menikah.”

Haruna tersedak, padahal dia tidak meminum apa-apa. “Menikah? Tentu saja setiap orang akan melakukannya. Dan umurmu masih tujuh belas, masih lama!”

“Aku harap begitu.”

“Jadi? Menikah adalah impian terbesarmu?”

“Bukan terbesar, tapi aku ingin sekali merasakan cinta. Lihat dirimu. Pernah bersama Baekhyun. Aku? Bahkan dilirik laki-laki pun tidak.”

“Nanti juga akan dapat,” Haruna menatap Baekhyun yang tak jauh dari mereka. “Kalau kamu mau, kenapa tidak dengannya saja? Sebetulnya lumayan, tapi sangat menyebalkan.”

Mayu tertawa ringan. “Ahh, kurasa percuma. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Baekhyun, atau siapa saja yang jatuh cinta padaku.”

*

“Aku … takut …”

Baekhyun merangkul Mayu dengan erat. Dia bisa melihat dan merasakan ketakutan itu, pada saat Mayu tampil untuk solonya. Dia tampak gemetaran, mungkin karena lbih terbiasa dengan biola.

“Tidak apa-apa. Nanti kamu tidak sendirian,” Baekhyun berusaha membesarkan hatinya.

“Hoh … itu nomor kita. Ayo,” kata Haruna.

Mayu mengikuti kedua temannya menaiki panggung. Ratusan pasang mata memperhatikan mereka, dan ini semakin membuat Mayu bergidik.

Oh ayolah, kuatkan dirimu Watanabe!!

.

“Jadi?”

Riuh aplaus memenuhi venue. Mayu dan kedua temannya hanya duduk membeku di tempat mereka, masih tidak percaya jika nomor mereka keluar sebagai pemenang pertama dalam kategori grup.

“Kenapa kalian hanya diam? Ayo maju!” seru seorang penonton yang duduk di belakang mereka.

Baekhyun akhirnya berdiri, memimpin jalan. Haruna dan Mayu menyusul di belakang, keduanya saling mengaitkan telapak tangan.

“Mayu-chan, kita melakukannya,” kata Haruna lirih.

“Aku pasti bermimpi,” balas Mayu.

“Kalau begitu harus cepat-cepat bangun,” Baekhyun memberitahu. “Kalian tahu apa hadiah terbesarnya selain uang tunai? Kita akan dikontrak sebagai artis.”

Haruna dan Mayu membulatkan mata, menatap Baekhyun seakan-akan dia terbuat dari emas.

“Baru saja pembawa acara mengatakannya,” jelas Baekhyun. “Oh ayolah, nikmati hidup baru kita!”

Mayu dan Haruna saling berpelukan–menangis. Memang ini bukan jalan hidup yang Mayu inginkan, tapi dia tetap harus menjalaninya. Apalagi … bersama dua orang teman yang akan bersamanya sampai akhir.

*

Mayu’s big secret.

“Haruna-chan, kamu tidak apa-apa?”

“Lepaskan,” Haruna menepis tangan Mayu. “Baka! Kamu pikir sudah berapa kali kamu menjatuhkan biolamu dan menimpa kakiku, ha!?”

“M-maaf. Aku tidak sengaja …”

“Ada apa??” Baekhyun menghampiri mereka berdua. Dia baru saja tiba dari membeli makanan. “Kenapa wajahmu begitu sadis, Haruna-chan?”

“Tanyakan saja padanya!” seru Haruna. Dia berdiri dan pindah di sudut lain. Mayu hanya menatapnya dengan sedih.

“Ada apa? Dia menyakitimu?” tanya Baekhyun.

Mayu menggeleng, lalu pergi ke sisi lain dari practice room itu. Baekhyun memandang dua gadis itu secara bergantian dengan bingung. Kemudian dia berjalan, menghampiri Haruna.

Ya, apa yang kamu lakukan padanya?”

“Hanya marah,” jawab Haruna asal. Dia sibuk memijat punggung kakinya. “Aku tidak tahu dia kenapa. Tapi dia terus menerus menjatuhkan biolanya dan mengenai kakiku.”

“Marah hanya karena itu?”

“Itu mengganggu konsentrasiku,” Mayu membanting setumpuk kertas dan sebatang pensil di depan Baekhyun. “Menulis lirik lagu! Biasanya aku selesai dalam waktu setengah jam. Tapi ini sudah dua jam, dan bahkan aku belum sampai chorus!

“Sebaiknya, kamu harus lebih lembut padanya,” Baekhyun buru-buru pergi sebelum Haruna mengatakan macam-macam. Dia ganti mendatangi Mayu.

“Kamu kenapa?”

Mayu hanya menggeleng. Pandangannya kosong, lurus ke lantai.

“Sakit?” tanya Baekhyun lagi. Dia memegang punggung tangan gadis itu–panas–dan berpindah ke dahinya. “Kamu demam!?”

Mayu menggeleng sekali lagi. “Aku … tidak apa-apa.”

“Demam! Ayo ke dokter!” Baekhyun sudah menarik tangan Mayu.

“Bukan, aku tidak demam,” kata Mayu, menarik tangannya.

“Wajahmu pucat. Bahkan berkeringat padahal ruangan ini ber-AC. Sepertinya kamu bekerja terlalu keras.”

“Tidak, aku baik-baik saja,” kata Mayu. “Mungkin … terjadi lagi.”

“Maksudmu?”

Mayu mendongak, menatap Baekhyun. “Tidak. Aku sudah janji tidak akan mengatakannya pada siapapun. Minggir,” Mayu berdiri dan berjalan keluar ruangan.

“Mayu-chan!!”

Baekhyun ganti menatap Haruna yang masih duduk di tempatnya. Pensil tadi sudah berpindah dari lantai ke sela gigi-giginya.

“Tahu ada apa dengannya?” tanya Baekhyun.

Haruna hanya mengangkat bahu. “Sakit? Dia terlihat agak pucat.”

“Perlukah kita menyusulnya?”

“Nanti juga pulang sendiri. Mayu bukan tipe orang yang suka keluyuran.”

.

“Kamu harus bertanggung jawab atas waktu tidurku yang terbuang, Bodoh.”

Baekhyun tidak mempedulikan omelan Haruna. Dia menatap gadis itu dengan serius. “Mayu belum pulang.”

“Ya, lalu?”

“Ini hampir tengah malam! Aku baru saja dari rumahnya dan dia tidak ada di sana!”

Haruna hanya diam. Jujur saja, gadis itu terkejut dengan pengakuan Baekhyun. Mayu memang bukan jenis orang yang suka keluyuran, apalagi di malam hari. Jadi, kemana perginya?

“Kamu memintaku kemari hanya untuk mengatakan hal itu?”

“Dan mengajakmu mencarinya.”

Haruna belum sempat membuka mulutnya dan Baekhyun sudah menariknya pergi. Mereka berlari menuju halte terdekat. Haruna merasakan keanehan menjalar di tangannya–di mana Baekhyun menggenggamnya.

Haruna mengerutkan dahi. Tidak, ini bukan masa lalu, Haruna-chan. Sekarang namamu Haruna, bukan Kojharu. Sekarang Baekhyun-san, bukan Baekki. Sekarang dia temanmu!

Mereka menaiki bus pertama yang berhenti di halte itu. Tentu saja suasana sepi, hanya ada mereka berdua dan tiga orang lain–termasuk supir dan kondektur.

“Kita mau ke mana?” tanya Haruna.

“Hanya ada satu tempat yang kemungkinan besar Mayu datangi, rumah sakit.”

“Kenapa begitu yakin?”

“Kenapa? Entahlah.”

Perjalanan terasa begitu lama dan Haruna sangat mengantuk. Berulang kali dia menguap lebar dan matanya berair.

“Tidurlah,” Bakehyun menaik-turunkan bahunya.

“Uh?” Haruna tampak heran. “Tapi kan kita …”

“Sering melakukannya dulu. Malam hari yang sepi, di dalam kendaraan. Kamu selalu senang jika meminjam bahuku,” Baekhyun terlihat santai.

Haruna terdiam, tidak mengerti dengan sikap Baekhyun. Baru saja dia akan bersandar di bahu itu, Baekhyun mendadak berdiri. Mereka telah sampai tujuan.

“Dasar pemberi harapan palsu,” Haruna mendesis geram. Baekhyun seperti tidak menyadari kelakuannya.

Keduanya mendatangi meja resepsionis, menanyakan apakah ada pasien bernama Watanabe Mayu.

“Watanabe Mayu …” Resepsionis itu tampak membalik-balik bukunya. “Ada. Lantai dua, kamar nomor 109.”

Setelah menggumamkan terima kasih, mereka berdua cepat-cepat menuju lift. Entah kenapa, Haruna merasa khawatir. Baekhyun juga tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya.

“Baekhyun-san. Lantai dua kan untuk …”

“Pasien tumor,” sambung Baekhyun. “Kuharap dia tidak apa-apa,” tangannya menggenggam tangan Haruna, sekedar untuk menguatkan hati gadis itu. Haruna juga meremas tangan Baekhyun.

Pintu lift terbuka. Baekhyun kembali berlari mencari kamar 109. Haruna tentu saja mengikutinya, dia celingukan.

Sebuah pintu tiba-tiba terbuka di hadapan mereka. Seorang dokter keluar bersama dua orang perawat. Di depan pintu itu tertera tiga buah kayu yang diukir membentuk angka 109.

“Apakah Anda yang menangani Mayu-chan?” tanya Baekhyun langsung.

Dokter itu tampak terkejut, tapi kemudian dia mengangguk. “Aku dokter pribadinya.”

“Dia sakit apa? Lalu bagaimana kondisinya?” tanya Haruna.

“Dia tidak menceritakannya pada kalian?”

Baekhyun dan Haruna serempak menggeleng.

“Tumor otak. Sudah lima tahun. Cukup mengejutkan karena dia bisa bertahan hidup sampai …”

“Tumor otak?! Kenapa Mayu tidak pernah cerita!?” Haruna seperti ingin menangis.

“Bisakah kami masuk ke dalam?”

Dokter itu menghela nafas panjang, terlihat putus asa. Dia mengangguk singkat pada kedua orang itu. “Aku akan menghubungi orangtuanya.”

Haruna segera menyerbu masuk diikuti Bakehyun. Mereka bisa melihat seorang gadis terbaring di atas ranjang, selimut hanya memberi kesempatan pada kepalanya untuk mencuat. Wajah yang tadinya tenang dan ceria kini terlihat …

Damai.

“M-mayu-chan …” Haruna membiarkan air matanya merebak keluar. dalam sejarah kehidupan remajanya, baru kali ini dia menangis keras. “Mayu-chan! Buka matamu!”

Baekhyun melirik ke samping kiri. Alat terseram sepanjang hidupnya kini menampakan garis merah–lurus.

Secepat inikah …?

“Mayu-chan! Mayu-chan!”

“Sudah terlambat,” Baekhyun merengkuh kedua bahu Haruna. “Kita … terlambat.”

Haruna berbalik dan mencengkeram jaket Baekhyun. Matanya merah, perpaduan antara sedih dan marah. “Kenapa!? Kenapa!? Aku bersikap buruk padanya! Itu hal terakhir yang kulakukan pada Mayu! Teman macam apa aku ini!? Aku bahkan belum meminta maaf padanya!”

Baekhyun hanya diam sambil menatap Haruna. Di matanya, saat itu Haruna adalah Kojiharu, Kojiharu yang lembut, bukan yang dingin seperti saat ini. Baekhyun mengangkat tangan dan melingkarkannya di pinggang dan kepala Haruna.

Gomennasai.”

Haruna tetap menangis.

“Sebaiknya kita keluar sebelum orangtua Mayu datang,” Baekhyun merangkul Haruna dan membawanya keluar kamar. Keduanya terus berjalan sampai tiba di halaman depan rumah sakit.

“Kenapa begitu cepat? Kenapa?” isak Haruna.

Baekhyun tidak tahu harus mengatakan apa. Dia sendiri juga belum percaya sepenuhnya jika Mayu telah pergi.

“Baekhyun-san,” kata Haruna. “Biola Mayu. Biola itu … harus kita apakan? Itu benda kesukaannya.”

“Menjaganya,” jawab Baekhyun. “Berarti sama saja dengan menjaga Mayu.”

“Mayu-chan …” desis Haruna. “Gomennasai …

Tengah malam sudah berlalu. Tidak ada yang bisa kedua orang itu lakukan, selain pulang, tidur, dan menyambut matahari untuk hari-hari yang hampa.

 

fin.

.

.

Halo Rizky atau Kiki, yang request FF ini!

Aku tambahin Baek soalnya kalo cuma dua orang agak susah bikinnya.

Maaf kalau jadinya lama banget dan ending-nya kurang pas TwT

Maaf juga kalau hasilnya ga sesuai keinginan dan ngecewain.

Jangan lupa komentarnya~

Advertisements

Author:

see; listen; write; shut up. ainayaazk on twit.

16 thoughts on “[FF Request] Wild and Young –Oneshoot

  1. oh waw …. ngagetin banget ff-nya. padahal mayu udah jadi artis tp trnyt kena tumor otak dan meninggal u,u
    nice, keep writing!

  2. yah kasian bgt mayuyu. padahal mimpi2nya blm kesampean. T3T
    aku kira dia bakalan jadian sm baek xD
    epic bgt pokoknya ini ff. ^^
    ga tau kenapa lbh suka pairing exo48 deh xD

  3. eum,, aku gatau harus komen apa..
    kira” apa kak?
    eum, ini keren banget, tapi aku gatau harus bilang apa
    aku suka banget sama gaya penulisan unnie lho ! dan jujur, endingnya agak kurang
    eum, apa lagi ya?
    Keep writing unnie!!

  4. sorry ya baru sempet comment
    keseluruhan….. keren sih, tp ending nya kurang puas, trus typo ya? tp gapapa sih manusiawi
    #arrigatou ne :)

  5. Wow, pertama kali baca exo ama akb dalam satu fanfic. Cast’a Mayuyu ama nyan nyan pula yg kebetulan mereka adalh oshi saya. tapi endingnya ngenes banget

  6. Pas mayu sudah pergi rasanya mau nangis tapi nggak bisa dikeluarkan,kalau ada lanjutan mungkin ffnya tambah bagus!

Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s