Posted in FanFiction

[Vignette] Coffee: Espresso

espresso1

“I remember we chose to break up after promising our futures together.
But breaking up was like a bitter Americano.”

Espresso

BTS’ Suga, Ex-T-Ara’s Hwayoung, F-VE Dolls’ Hyoyoung, BTS members

sonjimoon’s story | semua umur | Vignette | cover by jungartnim @ HSG

All casts belong to God. This story is my over imagination.

Macchiato’s sequel | Read this first

***

Pesan yang baru masuk itu membuatku menggigit bibir bawahku hingga membekas. Berulang-ulang kubaca pesan itu, tapi tentu saja isinya tidak berubah. Aku segera mematikan ponselku, karena aku yakin sebentar lagi akan ada telepon masuk.

Aku menatap sebuah lemari kecil berukuran setengah meter di sudut kamar. Pintu lemari itu sedikit terbuka, menyebabkan isinya sedikit tumpah. Aku membuang nafas berulangkali, kembali memikirkan apa yang harus kulakukan pada benda-benda itu.

Angin yang lumayan kencang menerbangkan tirai jendela. Walau sedikit terbuka, aku tidak peduli. Aku berdiri dan membuka lemari, mengambil sebuah tank top hitam dan mengganti kaos putih-coklat panjang yang kupakai dengan itu. Aku juga memakai jins biru tua, lalu varsity dengan warna senada. Terakhir aku menaikan rambutku sampai ke puncak kepala, dan menahannya dengan topi.

Don’t wanna be fool, wanna be cool
Wanna be loved neowa-ui same love (neowa-ui same love)

Yo baby I want it
Chin-gu nomi nureun joharoyo
Bo-ineun ni eol …

Aku mematikan tape yang berulang kali memainkan lagu itu. Geez, tepat di bagiannya. Untung saja.

Sebelum mengunci pintu apartemen, aku kembali berpikir ulang. Benarkah tindakanku ini? Benarkah jika setelah ini aku tidak akan menyesal?

Tapi hal yang paling kusesali adalah ketika aku tidak bisa melupakannya.

Dan sekarang dengan bodohnya, aku kembali berjalan menuju kafe itu.

***

“Sarangi ijhyeo jilttae geu ttae. Can you love me?”

Suara fanboys kini terdengar mendominasi venue. Aku yang tadinya menunduk serius di atas layar ponselku langsung mendongak dan tanpa sadar ikut bertepuk tangan. Kini di atas panggung megah itu berdiri tujuh orang perempuan berwajah innocent.

Mataku terpaku. Selama sekian detik hanya itu yang bisa kulakukan. Tidak, aku tidak terpaku karena penampilan mereka, atau karena lagu yang mereka bawakan, atau karena cewek blasteran tinggi yang berdiri di tengah-tengah.

Aku terpaku pada salah satu anggota dengan rambut pendek dikucir dua. Aku hanya bisa berharap jika dia tidak memandang ke arahku.

“Saranghanda anhanda geudae mami. Saranghanda anhanda …”

Aku mendengar suara cekikikan di sebelahku. Kulihat Jimin dan J-Hope sedang menirukan tarian itu sementara Jungkook menahan tawa melihat tingkah laku dua hyung-nya itu.

Hyung. Wajahmu seperti lap meja makan. Ayo tersenyum,” kata Jungkook. Dia tiba-tiba berdiri di belakangku dan menggerak-gerakan tanganku dengan konyol.

Mau tidak mau aku tersenyum–walau hanya sedikit.

“Sudahlah, Kook. Dia sedang menghayati lagunya,” kata Jin.

Jinjja? Apakah Hyung penggemar F-VE Dolls?” tanya Jungkook.

“Ahh, tidak,” jawabku dengan cepat. Diam-diam aku melirik Jin. Dia juga ikut menatapku dan berusaha menahan tawanya.

Lagu itu berakhir, dan suara tepuk tangan kembali memenuhi venue. Aku dan teman-temanku juga ikut bertepuk tangan, sementara ketujuh perempuan itu membungkuk singkat lalu berterima kasih dan meninggalkan panggung.

Ya. Tadi itu Hyoyoung Noona kan?” celetuk J-Hope tiba-tiba. “Saat fansign minggu lalu salah satu fans ada yang meminta tanda tanganku. Dia mirip sekali dengan Hyoyoung Noona. Aku sempat berpikir jika dia kembarannya yang bernama … bernama … siapa ya?”

“Hwayoung Noona?” sambung Namjoon. “Haha, mana mungkin. Mungkin hanya perasaanmu saja!”

Aku harap anak-anak ini mengganti topik pembicaraan. Tapi entah mengapa, oborolan mereka tampak semakin seru. Aku tidak suka ini.

Mataku sudah merindukan cahaya matahari. Setelah keluar dari venue yang remang-remang rasanya sulit untuk membiasakan diri dengan cahaya matahari. Kami bertujuh berjalan menuju mobil bersama dua bodyguards dan Manager Hyung.

Di tengah perjalanan kami bertemu dan bertegur sapa dengan beberapa idols lain. Mereka semua tampak kelelahan, tapi senyum mereka masih mengembang lebar. Yah, kuharap aku juga bisa seperti itu.

Eonni~ sampai di dorm kamu harus memasak yang enak!”

Aku menoleh mendengar suara itu. Bukan karena panggilan “Eonni” tapi karena entahlah. Dan yang dipanggil “Eonni” itu adalah orang yang J-Hope ributkan tadi, sedang berjalan berdua dengan salah satu anggota grupnya.

“Tidak, aku sedang tidak enak badan.”

“Apa Eonni sakit?”

“Entahlah …”

“Ryu Hyo Young.”

Mereka berdua berhenti, kaget. Aku juga kaget. Apa sih yang barusan mulutku katakan? Kini kami bertiga berdiri berhadapan. Aku menatap Hyoyoung, dan dia balas menatapku. Oke, ini ekspresi sangar.

“Nayeon-ah, kamu duluan saja,” kata Hyoyoung.

Temannya yang dipanggil Nayeon itu menatap Hyoyoung dengan heran, tapi dia menuruti apa kata Hyoyoung. Tentu saja, karena Hyoyoung adalah leader di grupnya.

“A … apa kabar?” entah kenapa aku bertanya begitu, padahal tadi aku sudah dengar tadi dia tidak enak badan. Aku tahu jika teman-temanku menatapku dengan heran, tapi untung saja Jin Hyung langsung menggiring mereka pergi.

“Aku? Sama seperti dulu,” jawabnya. “Mau apa? Jangan tanyakan apapun tentang adikku.”

Tahu bagaimana perasaanku saat dia mengatakan hal barusan? Uh, aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu apa yang ingin kubicarakan dengannya.

“Maaf, aku sibuk,” dia berjalan menjauhiku begitu saja.

“Tunggu,” cegahku. “Aku tidak akan tanya apapun tentang dia. Aku hanya ingin tahu, di mana kalian tinggal?”

Hyoyoung berhenti, berbalik dan kembali menatapku. “Aku tinggal di dorm.”

“Aku tahu. Maksudku rumah kalian, atau apartemen?”

“Aku bilang aku tinggal di dorm. Kalau kamu bertanya begitu, artinya kamu menanyakan Hwayoung. Dan kamu sudah bilang tidak akan menanyakan apapun tentang dia.”

Nada bicara orang ini benar-benar tajam menusuk. Dia pergi meninggalkanku, menyusul teman-temannya sementara aku hanya terdiam di tempatku. Aku terus menutup punggung orang itu, sampai dia berbelok dan tidak kelihatan lagi.

Benarkah jika aku tadi menanyakan Hwayoung?

Lalu apa gunanya aku menanyakan kembali orang yang sedang berusaha melupakanku?

Hwayoung, bantu aku melupakanmu.

Hyung!!!”

Aku tersentak dan langsung menoleh. Kulihat wajah Jimin kini tepat berada di sebelah wajahku, kepalanya menjulur keluar dari dalam mobil.

“Mau di situ sampai kapan??”

Aku tidak mengatakan apa-apa, tapi langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Aku yakin mereka semua yang di dalam mobil memandangku, berharap aku menceritakan sesuatu. Tapi aku tidak membuka mulutku, hanya duduk diam sepanjang perjalanan.

***

Aku berhenti di depan sebuah pintu. Sekali lagi–walaupun sudah hafal–aku memastikan tidak salah alamat. Aku masih tidak percaya. Walaupun dia dingin padaku, Hyoyoung tetap memberikan alamat sebuah apartemen.

Dan jujur saja, aku belum tahu tujuanku datang ke tempat ini.

Aku menekan bel dan harus menunggu sepuluh menit sebelum pintu dibuka. Betapa kagetnya aku ternyata yang kudapati adalah orang itu lagi. Sama seperti siang tadi, aura dinginnya belum hilang.

“Dia sedang di dalam,” katanya. “Aku tidak akan mengganggu kalian. Tapi … awas kalau macam-macam padanya.”

Aku hanya mengangguk. Hal seperti ini sudah biasa, bahwa Hyoyoung mengancamku. Kemudian dia melengos pergi, meninggalkanku sendirian di ruang depan apartemen itu.

Apa yang harus kulakukan? Masuk begitu saja dan menemui orang itu? Atau diam di sini sampai dia datang? Bodohnya, kenapa tadi tidak kutanyakan apakah dia tahu kedatanganku atau tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk lebih dalam. Mungkin Hyoyoung bisa kujadikan alasan.

Apartemen ini besar dan luas. Aku pikir kenapa dia memilih untuk tinggal di apartemen? Entahlah.

Aku mendengar suara besi beradu dengan plastik. Ternyata dia sedang di dapur, entah menyiapkan apa. Dia berdiri membelakangiku, dan aku mendadak kagok. Lagi-lagi, apa yang harus kulakukan?

A-a …

“Aku tahu kamu akan datang,” potongnya tanpa membalikan badan. “Hyoyoung tidak mengatakannya padaku. Tapi aku tahu, cepat atau lambat, kamu pasti menemukanku di sini.”

Aku hanya diam, atau mungkin speechless. Sejak kami memutuskan untuk tidak bersama, ini pertama kalinya dia mengajakku bicara.

Tangan gadis itu mulai membuka ikatan apron dan menggantungkannya begitu saja. Lalu dia berbalik. Dan dia menatapku. Dan aku tidak berani menatap balik.

“Padahal saat fansign itu matamu terus menatapku,” katanya. “Aku tahu, Yoongi. Aku tahu.”

Dia masih memanggilku dengan nama itu. Dia berjalan mendekatiku. “Kurasa tempat ini bukan tempat yang tepat. Ayo keluar.”

“Ke … mana?”

“Rapatkan saja topimu itu.”

.

Dan itulah alasan kenapa sekarang kami di sini, duduk di bawah cahaya lampu, memunggungi jalan ramai, di depan sebuah–semacam–danau buatan. Aku tidak mengerti kenapa dia mengajakku kemari.

Beberapa saat duduk bersebelahan dan tanpa percakapan. Dia mendadak berdiri, menggumamkan sesuatu entah apa padaku dan pergi begitu saja. Singkatnya, dia kembali lagi dan menyodorkan sesuatu padaku.

“Bukan Macchiato,” katanya, lalu duduk di sebelahku. “Kupikir tidak enak rasanya mengobrol tanpa minum,” dia lalu meneguk kopinya sendiri.

“Ini apa?” aku mengangkat gelas kopiku sendiri.

“Rasanya jauh lebih baik dari Americano yang pahit ini.”

“Kamu minum Americano?”

Hwayoung mengangguk. “Saat itu kamu minum juga. Aku ingin merasakan hal yang sama.”

Aku diam saja, menelan sedikit kopi yang kuterima. Lidahku merasakan sensasi yang aneh tapi memang benar jika ini lebih baik daripada Americano. Ini Espresso.

“Soal amplop itu,” katanya tiba-tiba. “Menurutku lebih aman jika isinya berada padamu. Teman-temanku sering berkunjung, aku takut mereka menemukannya.”

Aku mengangguk mengerti. Tapi sejauh ini, aku masih belum mengatakan apa-apa.

“Ternyata Jimin benar,” lanjutnya. “Kamu tidak pandai membawa perempuan berkencan.”

Aku nyaris tersedak Espresso itu, lalu menatapnya dengan mata melebar. “J-jadi kita sedang berkencan?!”

Sebelum Hwayoung sempat membuka mulutnya tiba-tiba sebuah bayangan bergabung. Aku dan Hwayoung serempak mendongak, melihat siapa yang datang.

“Suga Oppa!” serunya tertahan. “Iya! Kamu benar-benar Suga Oppa!”

“Sstt … pelankan suaramu!” kataku pada anak kecil yang baru datang itu. Mungkin umurnya dua belas atau tiga belas.

“Apakah Oppa sedang berkencan?” tanyanya. “Waah … bagaimana jika ada paparazzi yang menyorotmu?”

“Satu-satunya paparazzi itu adalah kamu! Pergi dan jangan bergosip!”

Anak itu tersenyum usil. “Oke, aku akan melakukannya. Tapi … Oppa harus mau berfoto selca denganku.”

“Apa?!”

Anak itu langsung menarik tanganku dan membawaku ke sisi lain. Dia mengambil ponselnya dan mulai membidik kami. Aku hanya diam, menatap anak itu dengan kesal sementara dia melonjak gembira.

“Oh ya! Satu lagi …” tiba-tiba dia menarikku ke bawah, dan dengan cekatan mendaratkan bibirnya di pipiku. “Baik, Oppa! Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku janji! Dan temui pacarmu itu. Aku takut dia cemburu. Annyeong!”

Aku hanya menatap kepergian bocah itu–masih dengan kesal. Dia berlari menjauh, lalu tidak kelihatan lagi. Ugh, benar-benar malam yang aneh.

Aku kembali berjalan menuju tempatku semula. Hwayoung masih di sana, dan dia sedang terbahak-bahak. Dia tertawa. Sejak kutemui dia di dapur apartemennya, baru pertama kalinya dia tertawa.

“Apa sih yang lucu?” tanyaku.

Hwayoung susah payah menghentikan tawanya. “Kamu.”

“Aku?”

“Y-ya. Ekspresimu tadi saat bocah itu menciummu. Benar-benar lucu! Sayang aku tidak sempat mengabadikannya.”

Orang ini tidak ada bedanya dengan bocah itu. Tampak senang di atas penderitaan orang lain. Tapi di sisi lain, aku senang melihatnya tertawa. Dan dia tertawa karena aku.

“Berhentilah tertawa,” kataku sebal.

Tapi Hwayoung tidak merespon emosiku. Dia melanjutkan sisa-sisa tawanya, dan ini membuatku semakin kesal.

Ya!” tanpa sadar aku memegang bahunya, membuat wajah gadis itu menghadap wajahku.

“Oh. Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanyanya dengan polos.

Tanganku menyibak rambut panjang gadis itu. Ternyata benar, telinganya disumpal headset yang kabelnya tertutup oleh hoodie-nya. Dia meringis tanpa dosa padaku.

“Apa sih yang kamu dengarkan?” aku mencabut salah satu headset itu dan mendekatkannya ke telingaku sendiri. Aku mendengar suaraku sendiri. “Kamu …”

Kulihat wajahnya memerah, lalu dengan cepat menyambar headset itu. “Lagu itu tidak sengaja terputar. Aku … aku menyukai suara Jungkook dan gaya rap J-Hope. L-lalu …” dia memalingkan wajahnya dariku. “Aku juga menyukai lagu yang kamu tulis itu …”

Satu hal yang langsung terpikir olehku adalah, bahwa dia benar-benar seorang A.R.M.Y. Dan apa tadi? Dia menyukai lagu itu? Mungkin sesuai dengan judulnya, I Like It …

“T-tidak perlu semalu itu. Aku tahu kamu seorang A.R.M.Y j-jadi …”

“Apa kamu tahu kenapa aku mendatangi fansign itu?” potongnya. “Tidak sekedar ingin bertemu J-Hope, ingin bertemu Bangtan. Aku juga ingin bertemu denganmu.”

Aku menelan ludah. Sekarang apalagi?

“Wajahku benar-benar merah saat kamu menjawab pertanyaan dari pembawa acara itu. Aku harap aku bisa menatapmu, tapi ternyata aku tidak berani. Karena … karena dengan hanya menutup mata, wajahmu tampak jelas.”

Wajah gadis itu tertutup sepenuhnya oleh rambutnya yang menggantung. Aku tidak bisa memprediksi bagaimana ekspresinya saat ini.

“Hyoyoung memarahiku,” lanjutnya. “Dia selalu bilang untuk apa memikirkan orang yang sebaiknya dilupakan. Kamu tahu? Karena dia saudara kembarku, rasanya seperti dimarahi oleh sebagian dari jiwamu sendiri. A-apeuda.”

Aku menatap puncak kepala Hwayoung, yang kini wajahnya dia sembunyikan di dadaku. Aku tahu dia menangis, dan aku hanya membiarkannya–menunggu sampai ia puas membuang air matanya.

.

Sepertinya sudah cukup sampai di sini.

Aku membalikan badan, untuk menjauh dari pemandangan di depanku. Aku paling benci melihatnya menangis, karena nantinya aku akan ikut menangis. Aku hanya berharap mereka berdua tidak tahu jika sedari tadi aku memperhatikan dari balik pohon ini.

Perlahan aku mulai meninggalkan tempatku. Terserahlah apa yang akan Hwayoung lakukan. Dia menangis, dan itu gara-gara aku. Kupikir selama ini aku belum menjadi saudara yang baik untuknya.

Ryu Hwa Young, maafkan aku.

.

Dengan sedikit canggung, aku melingkarkan tanganku di punggung gadis itu. Aku pikir, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melakukannya, aku bisa memeluknya. Tangis Hwayoung semakin keras, dan aku tidak tahu harus apa.

“M-maaf,” dia melepaskan tangannya dan menatapku. “A … aku jadi cengeng begini.”

“T-tidak apa-apa,” ucapku, ikut melepaskan tanganku sendiri.

“Tapi kakakku memang benar. Aku harus bisa melupakanmu,” katanya. “Walaupun perasaan itu masih ada, tapi posisi kita tidak memungkinkan. Aku harus berhenti berharap.”

Walaupun perasaan itu masih ada … apa yang kamu bicarakan, Hwayoung? Jadi selama ini kamu masih …

“Aku harus mulai menganggap hubungan kita sebatas idola dan penggemarnya. Layaknya seorang penggemar, aku tidak bisa meminta lebih,” dia memaksakan diri untuk tersenyum.

“Hwayoung-ah …”

Aku memeluknya sekali lagi. Barangkali … ini hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya.

Hwayoung mendorongku sedikit, mencabut headset-nya dan memasang benda itu di telingaku. Aku tertegun. Kini yang kudengar adalah suara merdu seorang perempuan, disusul suara Hwayoung. Lagu ini …

“Aku harus berterimakasih pada pihak agensi yang telah memberikan bagian itu padaku,” katanya. “Nuneul gamado boyeo. Gwireul magado deullyeo. Noege beuruneun majimak nauie norae. Jebal nal ullijima1 …”

Tapi dia kembali menangis. Apakah dia menangisiku? Atau menangisi perpisahan ini?

“Min Yoon Gi, terima kasih untuk hari ini,” ucapnya lirih. “Breaking up was like bitter Americano. Tahu kenapa aku memberimu Espresso? Karena itu adalah bentuk lain dari Americano. Aku harus menetralkan rasa pahit itu, menetralkan perasaanku.”

Baik, Ryu Hwa Young. Saatnya menjalani kehidupan kita sendiri-sendiri. Pada dasarnya, kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersama.

 

The End

1 = When I close my eyes, I see you. When I block my ears, I hear you. This is the last song I am singing to you. Please don’t make me cry (penggalan lirik T-Ara&Davichi – We Were in Love)

*

Ini apa?? Ini FF macam apa? ;A;

Entah kesambet setan mana sampe-sampe aku bikin sequel-nya, padahal biasanya aku selalu nolak sequel >< haha, tapi okelah, ini malah jadinya absurd banget TwT maaf Ryu twins, aku menistakan kalian di hari ulang tahun kalian TwT

Anyway, happy birthday to Ryu Twins! Hyoyoung and Hwayoung, rest well and keep beauty :D

  Pict Spam:

hwayoung+hyoyoung

s

twins

hyo   hwa

large (7) large (8)

Advertisements

Author:

see; listen; write; shut up. ainayaazk on twit.

8 thoughts on “[Vignette] Coffee: Espresso

  1. AAA! Astaga, Ryu Twins! Aku nggak tahu mau comment gimana. Ini… menyentuh hati, bikin dada rasanya sesak. Rasanya, perasaan Suga dan Hwayoung tersampaikan banget, dan sewaktu baca ini emosiku seolah ikut main.

    Aku suka diksinya! Biasanya agak males baca yang dialognya pakai kata ‘kamu’ -kan fic biasanya pakai ‘kau’- tapi ini oke-oke saja. Malah lebih santai dan nyaman.
    Aaa, pokoknya aku suka! Keep writing and fighting, yah! :D

Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s