Posted in FanFiction

[Oneshoot] More than Words

more-than-words

More than Words

Main Cast:
BTS’ Jungkook and Nam Hyun Jin (OC)

Supporting Cast:
AOA’s Chanmi
BTS’ V
BTS’ Jimin
C-Clown’s Maru (Jaejoon)

sonjimoon’s present

Romance, friendship, angst | Oneshoot | PG-13 | Cover by Girikwon @ HSG

Semua tokoh milik sumber masing-masing. Cerita murni dari otak sendiri. Semua kutipan lagu di sini berasal dari lirik lagu “More than Words” by Westlife. Plagiat? Silent readers? Go away.

page

***

Bayangkan saat itu kamu sedang bercermin.

Siapa–apa yang kamu lihat?

Ketika aku bercermin, aku melihat seseorang yang balik menatapku.

Orang itu berparas cantik dan tegas.

Dia adalah ketua kelas paling galak dan sangat disiplin.

Tak dapat dipungkiri, otaknya mampu mencetak angka-angka luar biasa.

Dalam balutan seragam sekolahnya itu, dia terlihat rapi karena dia membenci ha-hal yang tidak teratur.

Orang itu lahir di keluarga berada yang memiliki perusahan besar turun temurun.

Hidupnya enak, tapi dia tidak menyukainya.

Masa depannya menjanjikan, tapi dia memilih mengikuti kta hatinya.

Dan apabila dilihat dari ekspresinya, dia sudah siap.

Tapi tidak ada yang tahu jika hatinya meronta.

Tentu saja.

Karena gadis yang menyandang predikat murid teladan itu,

kini statusnya sebagai pacar seorang berandalan sekolah.

***

“Jinnie, kenapa kamu sekasar itu, hm?”

“Sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan itu …”

“Tapi itu terdengar lucu dan manis.”

Hyunjin menepis tangan Jungkook sekali lagi yang hendak meraih dagunya. Lalu gadis itu berdiri, menatap namja di hadapannya dengan sebal.

“Berhentilah melakukannya. Apa aku harus mengingatkanmu seribu kali?” tanya Hyunjin dingin.

“Wajar saja kan jika aku ingin menyentuhmu?”

“Tapi aku tidak suka … bersikaplah biasa saja.”

Jungkook ikut berdiri, menatap Hyunjin lekat-lekat. “Coba tanyakan pada mereka,” jarinya menunjuk selusin anak kelas satu yang sedang bermain bola di lapangan. “Tanyakan siapa yang aneh. Aku, atau kamu.”

Bisa jadi kita berdua, Hyunjin berkata dalam hati. Dengan frustasi dia menyambar tasnya dan melangkah pergi. Tentu saja Jungkook mencegahnya.

“Jangan pulang kalau aku tidak mengantarmu.”

“Aku bisa pulang sendiri,” Hyunjin berusaha menarik tangannya. “Kenapa kamu tidak berkumpul saja dengan gerombolanmu itu ha?”

“Karena sudah ada kamu. Ayo pulang.”

Jungkook mnegeratkan genggaman tangannya. Itulah salah satu alasan kenapa Hyunjin berhenti memberontak. Dia pasrah saja ketika Jungkook membawanya keluar lewat gerbang belakang sekolah.

Tapi Jungkook tidak membawa Hyunjin pulang ke rumah. Dia membawanya ke arah yang berlawanan, tanpa mempedulikan protes anak itu.

Ya!! Kamu ini mau membawaku ke mana!?” seru Hyunjin ketika Jungkook berhenti.

“Lihat sendiri,” jawab Jungkook kalem. Matanya menatap lurus ke depan.

Hyunjin mengikuti arah tatapan Jungkook. Sebuah sungai beraliran tenang dengan batu-batu besar yang memagarinya. Gadis itu takjub melihatnya.

Nuna!!!

Hyunjin tersadar dari kebingungannya. Dia melihat Jungkook sudah duduk di salah satu batu itu, menyuruhnya untuk mendekat.

“Sudah kukatakan jangan panggil aku ‘Nuna’,” kata Hyunjin sambil berjalan menghampiri Jungkook. “Kita hanya berjarak beberapa bulan.”

“Delapan bulan,” Jungkook mengingatkan. “Lebih dari enam bulan. Tidak ada salahnya aku memanggilmu ‘Nuna’, karena dipanggil ‘Jinnie’ kamu selalu menolak.”

“Panggil aku dengan namaku, aku tidak akan menolak.”

“Tidak bolehkah aku membuat panggilan khusus? Setiap orang yang pacaran melakukannya.”

Seperti yang Jungkook lakukan, Hyunjin juga melepas sepatu dan kaus kakinya. Kini dia asyik menendang-nendang air, tanpa terlalu mendengarkan apa yang Jungkook katakan.

“Sebaiknya Nuna juga membuat panggilan khusus untukku.”

“Hm? ‘Jungkook’ saja sudah cukup. Itu panggilan khusus. Bukannya kamu punya banyak penggemar di sekolah? Kebanyakan dari mereka memanggilmu ‘Kookie’ atau ‘Oppa’. Maka Jungkook adalah panggilan khusus,” Hyunjin tersenyum tanpa dosa.

“Oh mereka …” Jungkook melempar pandangan jijik. “Akan berbeda rasanya jika kamu yang memanggilku begitu.”

Mereka berdua terdiam selama beberapa detik. Sekali lagi, Hyunjin tidak terlalu memperhatikan apa yang Jungkook katakan. Dia sibuk dengan pemandangan di hadapannya, hamparan bukit yang hijau. Dia mulai bersyukur atas paksaan orangtuanya untuk pindah dari Seoul.

“Jungkook-ah,” panggil Hyunjin. “Kenapa … kamu membawaku ke sini?”

“Banyak hal yang harus Nuna lihat,” jawab yang ditanya. “Dan banyak hal yang harus kulakukan.”

“M-maksudnya?”

“Tidak apa-apa,” kata Jungkook dengan segera. “Sekarang beri aku alasan kenapa Nuna tidak mau memberi panggilan khusus.”

“Ck, ternyata kamu masih membahasnya. Tidak, tidak ada alasan untuk itu.”

“Hm, begitu ya?”

Secara diam-diam, Jungkook mencelupkan tangannya ke dalam sungai dangkal itu, dan menariknya ke atas bersamaan dengan cipratan air yang langsung membasahi Hyunjin.

Ya!! Apa yang kamu lakukan?” seru Hyunjin.

“Membuatmu basah,” jawab Jungkook datar.

Tentu saja Hyunjin langsung membalasnya. Dia memberi Jungkook air yang lebih banyak lagi. Singkat cerita, akhirnya mereka saling mencipratkan air sampai basah kuyup.

“Begitu lebih baik. Dari tadi pagi kamu belum mandi kan?” ejek Jungkook.

“Harusnya aku yang berkata begitu,” Hyunjin tertawa. “Ayo pulang. Sudah sore.”

“Tunggu sebentar,” cegah Jungkook. “Ikuti aku.”

Dengan heran, Hyunjin menatap Jungkook yang naik ke atas batu dan melompati tiap batu dengan cekatan. Hyunjin hanya menatapnya selama beberapa saat.

Nuna! Ppali!!” teriak Jungkook.

Lagi-lagi Hyunjin tersadar dari kebingungannya. Dia mengikuti jejak Jungkook dengan melompati batu-batu itu. Beberapa kali dia nyaris jatuh karena kakinya basah dan licin.

Jungkook menunggunya di atas sebuah batu, yang Hyunjin tebak adalah batu paling besar. Jungkook duduk di atas batu itu, dan Hyunjin duduk di sebelahnya.

“Apa?” tanya Hyunjin.

“Ssssttt …” Jungkook meletakan telunjuk di atas bibirnya. Dia menatap ke depan.

Hyunjin akhirnya tahu maksud Jungkook. Langit yang tadinya biru cerah dan bebas awan ketika memudar menjadi jingga. Mata Hyunjin menatap lingkaran besar berwarna senada dengan langit yang terus condong ke barat.

Perbukitan yang hijau dan aliran air sungai yang terlalu tenang menambah keindahan sore itu. Hyunjin tak sanggup berkata-kata, ini pertama kalinya dia melihat matahari terbenam secara langsung. Dia seperti kehilangan akal sehatnya dan tidak berhenti tersenyum.

Jungkook melirik pacarnya itu. Wajah Hyunjin menyiratkan kehangatan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Jungkook tersenyum.

“Nuna,” panggil Jungkook sambil mengedikan bahunya, sehingga mau tidak mau Hyunjin duduk tegak. “Ini untukmu.”

Hyunjin menatap benda panjang yang tiba-tiba menggantung dari genggaman tangan Jungkook. Sebuah kalung rantai kecil berwarna putih. Jungkook meminta Hyunjin untuk berbalik dan menyingkirkan rambutnya, sehingga dia bisa memakaikan kalung itu. Hyunjin menurut.

Genie?” Hyunjin menatap tulisan yang menggantung di depan kalung, lalu menatap Jungkook.

Jungkook mengangguk. “Jinnie, Genie. Pengucapannya sama kan?”

“Tapi bahkan aku belum pernah mengabulkan permintaanmu. Bahkan saat itu, padahal aku yang memulai duluan … tapi aku tidak mengatakannya …”

“Sudah,” Jungkook mengedipkan sebelah mata. “It’s more than words, it’s more than what you say. It’s the things you do, oh yeah …”

Hyunjin tertawa. Ini pertama kalinya dia mendengar Jungkook menyanyi. “Ya, aku suka lagu itu. Nyanyikan sampai akhir.”

“Bayar,” Jungkook menjulurkan lidahnya dan keduanya tertawa.

“Jungkook-ah,” panggil Hyunjin. “Terima kasih.”

“Apa kamu senang?”

Hyunjin mengangguk sambil tersenyum. Aku tidak pernah merasa sesenang dan senyaman ini.

Tanpa sadar, Hyunjin menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook. Tentu saja Jungkook kaget, dan juga senang. Mungkin jika ada kamera di situ, dia akan melambai dan tersenyum penuh kemenangan. Misinya berhasil!

Karena selama dua bulan memacari Hyunjin, baru kali ini aku membuatnya senang dan menikmati kesenangan itu.

***

Bel masuk sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Di saat anak-anak lain sedang mendengarkan penjelasan guru, aku harus berdiri di luar kelas sampai pelajaran Kim seonsaengnim selesai. Dan itu masih lama.

Jujur saja, aku senang karena tidak mengikuti pelajaran. Tidak peduli mau seperti apa gurunya, asal tidak bertemu pelajaran sudah membuatku teramat senang. Tapi aku tahu. Setelah ini, Hyunjin akan memarahiku habis-habisan.

Aku sudah bisa membayangkan kata-kata apa saja yang akan keluar dari mulutnya, tapi Taehyung–yang juga dihukum bersamaku–mencegahku untuk melamun.

“Ayo pergi,” ajaknya.

“Ke mana? Lapangan?” sambut Jimin dengan semangat.

“Bolehlah. Di sini membosankan. Ayo.”

Sesaat aku bimbang. Tampak empat kawanku berjalan menjauhi kelas. Mereka terdiri dari Taehyung si playboy, Jimin yang jago berkelahi, Jaejoon the troll king dan satu-satunya perempuan, Chanmi yang terlalu pemberani.

Ya! Apa kamu akan berdiri di sana sampai menjamur?” tanya Jimin.

Aku tidak menjawab, hanya menatap mereka dari tempatku berdiri saat ini.

“Kurasa dia mendengarkan pelajaran dari sana,” komentar Chanmi.

“Ayo ikut! Jangan bimbang seperti itu!”

“Jangan bilang kamu takut pada Hyunjin,” kata Jaejoon.

Mereka berempat tertawa, dan aku yakin seluruh kelas yang berada di lantai empat bisa mendengarnya. Tapi Jaejoon memang benar. Aku takut pada Hyunjin setelah peristiwa menyenangkan dua hari yang lalu itu.

“Kami akan hitung sampai tiga,” kata Taehyung. “Kenang saja persahabatan kita apabila dalam waktu itu kamu tidak ikut.”

Seenaknya saja dia bicara, aku mengumpat dalam hati. Aku memandang wajah teman-temanku yang terlihat menantang. Tidak ada di antara mereka yang tampak memohon.

“Kenang saja persahabatan kita …

Terus terang saja, aku tidak mau. Aku dan Taehyung sudah bersama sejak TK. Kami bertemu Chanmi saat SMP, sedangkan Jimin dan Jaejoon menjadi bagian saat duduk di bangku SMA. Kuakui saja, kami memang dikenal sebagai berandalan. Tapi …

“Okelah,” aku tersenyum lalu berlari menghampiri mereka. Tapi mereka teman-teman terbaik yang pernah aku temui.

“Begini lebih baik,” Taehyung merangkulku dan kami sama-sama pergi ke lapangan belakang sekolah. Sebetulnya lebih menyenangkan di atap, tapi tidak ada yang mau repot-repot turun hanya untuk mengambilkan bola milik Jimin, karena di manapun kakinya selalu seperangkat dengan bola.

“Kukira Hyunjin membuatmu takut,” kata Jaejoon. “Tapi ternyata tidak. Itu bagus, jangan takut pada wanita,” dia melirik Chanmi.

Chanmi pura-pura tidak melihatnya, padahal tinjunya sudah terkepal. Aku, Taehyung dan Jimin hanya tertawa.

***

“Kita mau di sini sampai kapan?” tanya Jaejoon yang sudah mulai bosan.

Taehyung berada di atas pohon, terkantuk-kantuk di sana. Chanmi sibuk–entah apa yang dia lakukan di depan cermin kecilnya. Akhirnya Jimin yang memberikan jawaban.

“Ayo ke kelas. Ini pelajaran olahraga, aku tidak ingin melewatkannya.”

“Tidak bisakah kita lebih lama lagi di sini?” protes Chanmi.

“Lebih baik kamu berolahraga. Berdiam diri di depan cermin tidak ada gunanya,” kata Jimin kesal.

“Baik, ayo,” Jaejoon setuju, kemudian berdiri. Jungkook tidak mengatakan apa-apa, hanya mengikuti jejaknya. “Mana Taehyung?”

Bruk!

“Pendaratan yang bagus,” kata Chanmi. “Sayangnya dahan yang kamu naiki kurang tinggi.”

Taehyung tidak mendengarkan. Dia hanya merintih karena rasanya tulang punggungnya akan lepas. Ketiga temannya hanya tertawa, sambil membantu anak itu berjalan menuju kelas.

Sepuluh menit kemudian, Jungkook dan kawan-kawan kembali berada di lapangan setelah mengganti seragam. Anak-anak kelas tiga itu dibebaskan untuk berolahraga apa saja, tapi seluruh anak laki-laki bermain sepak bola. Chanmi menyesal karena mereka melarangnya ikut.

Akhirnya gadis jangkung itu hanya duduk di tepi lapangan. Dia memperhatikan teman-teman perempuannya membentuk kelompok-kelompok. Voli, basket, tenis, atau sekedar berlarian tidak jelas.

Tiba-tiba seseorang dengan nafas tidak teratur duduk di samping gadis itu. Orang itu menenggak air minumnya, dan mencoba mengatur nafas.

“Kenapa tidak ikut main?” sapa Hyunjin. Chanmi terkejut. Hyunjin tertawa … tentu saja, karena sangat jarang ada anak perempuan yang mau dekat-dekat Chanmi.

Hyunjin merasakan sesuatu yang aneh. Dia terbatuk-batuk secara mendadak sambil menutup mulutnya. Ketika dia menyingkirkan tangan dan menatap telapak tangannya …

“Darah?” Chanmi semakin terkejut. “Ya, kamu tidak apa-apa?”

“Entahlah …” jawab Hyunjin lirih, lalu dia batuk-batuk lagi.

“Ayo kuantar ke dalam.”

Tentu saja Hyunjin terkejut mendengar tawaran itu. Dia tidak tahu jika sebenarnya Chanmi berhati salju.

“Atau … perlu kupanggilkan Jungkook?”

“Jangan!” tolak Hyunjin dengan segera. Dia menatap sekeliling lapangan. Tidak ada yang memperhatikan mereka. “Jangan katakan pada siapapun. Jangan biarkan Jungkook tahu.”

Chanmi hanya mengangguk. Lalu dia segera memapah Hyunjin menuju ruang kesehatan. Mereka berdua tidak sadar jika seseorang dari lapangan bola tanpa sengaja melihat ke arah mereka. Tentu saja orang itu heran dan … cemas.

***

Ada keanehan yang Jungkook rasakan dalam perjalanan pulang. Hyunjin yang biasanya banyak omong kini lebih banyak menutup mulut.

“Bagaimana jika kita ke sungai itu lagi?”

Hyunjin hanya mengangguk mendengar ajakan Jungkook. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat itu.

Suasana kali ini benar-benar mengganggu perasaan Jungkook. Hyunjin hanya berbicara jika dia mengajaknya bicara, itu pun sekedar mengatakan “Ya” atau “Hmm” atau “Tidak” atau sejenis itu. Bahkan dia tidak merespon ketika Jungkook menyiramnya dengan air sungai.

“Kamu ini … kenapa?” tanya Jungkook putus asa.

“Aku baik-baik saja,” jawab Hyunjin. “Jangan khawatirkan aku.”

“Tapi kamu terlihat berbeda. Tidak seperti Hyunjin yang biasanya.”

Hyunjin tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menatap cerminan dirinya yang terpantul di permukaan sungai. Berulang kali dia mendesah, lalu menghapus bayangan dirinya itu dengan mengoyak air.

“Apa sesuatu yang buruk terjadi?”

Hyunjin tahu dia berbohong, tapi dia tetap menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia mengambil tas dan sepatunya, lalu berdiri.

“Mau ke mana?”

Gadis itu tidak menjawab. Dia langsung berbalik dan menuruni bebatuan. Jungkook buru-buru mengejarnya, karena dia tahu Hyunjin akan pulang.

Ya! Tunggu!”

“Jangan ikuti aku,” tiba-tiba Hyujin berhenti. “Pergilah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Katakan dulu apa yang terjadi. Apa ada yang menyakitimu?”

Perasaan Hyunjin bergejolak. Satu-satunya yang membuat sakit dirinya adalah darah itu, dan akan lebih sakit lagi jika Jungkook sampai tahu. Maka dia hanya menggeleng dan kembali berjalan.

Nuna!

“Jangan ikuti aku,” ulang Hyunjin. “Kumohon, jangan. Biarkan aku sendiri …”

Jungkook menangkap nada memelas dan suara Hyunjin yang bergetar. Dia tidak pernah melihat Hyunjin seperti ini sebelumnya. Namja itu berhenti, menurut. Tiba-tiba Hyunjin berbalik.

“Apabila aku tidak melihatmu, tetap jadilah anak yang baik. Perbaiki tabiat-tabiat burukmu, dan jangan mudah dipengaruhi teman,” katanya dengan tatapan sedih dan suara parau. “Jungkook-ah …”

Jungkook tidak bisa berkata apa-apa. Dia tahu Hyunjin lebih pendek darinya, jadi anak itu menjinjitkan kaki agar bibirnya bisa menyentuh bibir Jungkook. Jungkook speechless.

Karena tidak ingin melihat Hyunjin kesulitan, Jungkook menundukan kepalanya sehingga kaki Hyunjin kembali menjejak tanah dengan sempurnah. Giliran gadis itu yang kaget, tapi kemudian dia memejamkan matanya lagi.

Selanjutnya Hyunjin mundur. Matanya menatap mata Jungkook, tapi tak lama. Dia langsung pergi, berjalan dengan cepat menuju rumahnya.

“Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk?” Jungkook bertanya pada diri sendiri. “… jangan mudah dipengaruhi teman …”

Jungkook mengambil kesimpulan jika Hyunjin tahu dia bermain-main di lapangan saat seharusnya dia dihukum. Itu karena bujukan keempat kawannya. Jungkook tahu Hyunjin tidak menyukainya.

“… perbaiki tabiat-tabiat burukmu …” gumam Jungkook sambil berjalan pulang.

Pagi tadi dia memang datang terlambat karena bangun kesiangan. Padahal Hyunjin sudah meneleponnya sebagai alarm untuk bangun, tapi dia mengabaikannya. Hyunjin juga tidak suka hal itu.

“Hyunjin-ah, maafkan aku,” bisik Jungkook. “Hari ini, kita melewatkan matahari terbenam yang indah itu.”

***

Aku tidak tahu siapa yang bulan sinari malam ini.

Aku hanya berjalan sendirian, gelap, tapi aku sadar jika bulan menemani setiap langahku.

Saat ini bulan sedang membentuk bayangan orang yang sedang termenung sedih.

Orang itu berjalan sambil menundukan kepala.

Dia tidak menghadap ke depan, takut untuk menghadapi masa depan.

Sejak dua bulan yang lalu, orang itu memasuki kehidupan baru.

Kehidupan yang menuntutnya untuk menjadi orang yang lebih baik.

Dia berusaha agar bisa merubah dirinya.

Menjadi lebih baik, menjadi lebih dicintai, menjadi lebih dipercaya.

Tapi beberapa menit yang lalu dia sadar jika usahanya gagal.

Dia tidak dapat memenuhi keinginan orang yangs sebenanrnya dia sayangi.

Dia merasa tidak berguna.

Dia berpikir cara meminta maaf yang terbaik.

Dan siapa mengira, jika orang yang tidak pernah mengatakan cinta itu,

kini sedang memperjuangkan perasaannya.

 

Saying I love you, is not the words
I want to hear from you
It’s not that I want you
Not to say but if you only knew
How easy, it would be to show me how you feel

More than words, is all you have to do, to make it real
Then you wouldn’t have to say, that you love me
Cause I’d already know …

***

Tidak ada panggilan masuk maupun keluar di ponsel Jungkook pada pagi berikutnya. Tapi baginya tidak masalah. Dia bisa bangun pagi dan segera bersiap menuju sekolah.

Awal-awal, Jungkook tidak mengerti ketika Hyunjin mengatakan padanya jika “sangat menyenangkan berangkat sekolah pagi-pagi”. Dia tidak merasakan apapun kecuali rasa malas yang amat sangat. Tapi kali ini dia tahu. Banyak hal yang bisa dia lihat saat hari masih pagi.

Jungkook sengaja memilih jalan yang nantinya akan melewati rumah Hyunjin. Baru saja dia berniat menghampiri anak itu, tapi kemudian dia tertegun. Rumah Hyunjin tampak sepi, semua jendelanya masih tertutup.

Tidak ada salahnya mencoba.

Jungkook mengetuk pintu rumah. Tidak ada jawaban. Sekali lagi. Sama saja. Akhirnya Jungkook menarik kesimpulan jika Hyunjin sudah berangkat lebih dulu.

Orang pertama yang sampai di kelas XII-B adalah Jeon Jung Kook. Ini kejadian yang mungkin hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidup. Entah kenapa ada yang bisa membuat Jungkook senang datang paling awal.

“Tapi My Genie belum datang.”

Hari semakin siang. Satu persatu anak mulai memenuhi kelas. Beberapa saat kemudian bel masuk berbunyi nyaring. Tapi Jungkook masih belum melihat keberadaan Hyunjin. Dia mulai cemas.

“Apa kamu tahu ke mana Hyunjin?” Jungkook tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Orang yang dia tanyai–yang duduk di samping bangku Hyunjin–hanya bisa menaikan bahu karena tepat saat itu Choi seonsaengnim masuk. Guru muda itu mulai mengabsen kehadiran murid-muridnya.

“Kim Seol Hyun?”

“Ne.”

“Choi Jun Hong?”

“Ne.”

“…”

“…”

“…”

“…”

“…”

“…”

“Park Ji Min? Oh … dia terlambat lagi. Beserta kawanannya …” kata guru itu sambil mendata absensi.

“Orang ini tidak, Saem,” celetuk seorang anak sambil menunjuk Jungkook.

“Uh?” Choi seonsaengnim mengangkat kepalanya. “Jeon Jung Kook. Bagus, lakukan itu setiap hari.”

Ya, apa kamu melakukan ini karena Hyunjin?” anak itu berbisik di telinga Jungkook.

“Kurasa begitu …” Jungkook balas berbisik. Tapi anak itu tidak kelihatan!

“Nam … Hyun Jin?”

Hening. Bangku Hyunjin masih kosong. Perlahan, semua anak menatap ke arah Jungkook, begitu pula Choi seonsaengnim.

“Eh? A … aku tidak tahu ke mana dia. Tadi pagi dia tidak ada di rumah. Kupikir saat itu dia sudah datang …” Jungkook memberikan jawaban tanpa pertanyaan itu.

Tanpa sengaja pandangan namja itu mengarah ke jendela. Dia bisa melihat Chanmi di sana. Pandangan Chanmi menatap lurus ke bangku Hyunjin, pandangan yang khawatir. Chanmi merasakan pandangan Jungkook dan balas menatapnya. Tapi Jungkook tidak mengerti maksud pandangan Chanmi.

Ya, apakah Jungkook di dalam?” Jimin menjawil bahu Chanmi.

Chanmi menyingkirkan kepalanya dari jendela, mengangguk.

“Ada apa dengan ekspresimu itu, ha? Biasanya sadis dan dingin,” komentar Jaejoon.

Chanmi hanya membungkam, tidak mempedulikan perkataan Jaejoon. Berulang kali dia menatap ke sepanjang koridor, berharap seseorang yang dia nantikan muncul. Orang yang Jungkook nantikan juga.

“Mencari siapa?” tanya Taehyung heran.

“Bukan siapapun,” jawab Chanmi. “Kurasa apabila kabar buruk datang, kita harus bisa membuat Jungkook tersenyum.”

***

“Hyunjin-ah, Hyunjin-ah.”

“Hyunjin-ah …”

“Nam Hyun Jin!”

“Jinnie!”

Hyunjin membuka matanya secara tiba-tiba dan langsung duduk tegak. Kepalanya terasa pening dan tenggorokannya gatal. Dia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.

“Hyunjin-ah!”

Gadis itu merasakan sebuah pelukan hangat. Ibunya. Tampak kesedihan memancar dari wajah wanita itu.

Eomma, apa yang terjadi? Di mana kita?”

“Tadi malam kamu pingsan, Nak,” sang ibu membelai rambut anaknya. “Batukmu terus mengeluarkan darah, seperti dulu. Kita di Seoul.”

“S-Seoul!?” Hyunjin merasa jantungnya berhenti. “K-kenapa? Bagaimana bisa?”

“Apa kamu lupa pada sakitmu? Tidak mungkin kami merawatmu di pedesaan seperti itu. Jadi semalam kamu langsung dibawa kemari.”

“S-Seoul!? Seoul … Seoul … J-Jungkook …” Hyunjin bergumam tak karuan. “B-Bagaimana dengan sekolahku?”

“Ibu sudah meminta izin, tenang saja.”

“Lalu Appa?

“Dia masih di sana. Sejam lagi akan sampai di sini.”

Tiba-tiba Hyunjin menangis. Bukan menangis bertahap yang awalnya hanya meneteskan air mata, tapi menangis langsung tiba-tiba dengan volume keras. Gadis itu teringat peristiwa dua tahun lalu saat … saat dokter memvonis penyakitnya.

Pada saat itu Hyunjin tidak terlalu peduli. Dia yakin setiap penyakit ada obatnya, dan bisa menyembuhkan. Tapi sudah lama dia tidak check up. Apa yang akan terjadi jika penyakitnya sudah akut? Itulah yang gadis itu tangisi saat ini.

“H-Hyunjin-ah …” ibunya terlihat bingung.

Eomma, bagaimana jika aku tidak bisa sembuh?” isak Hyunjin.

“K-kamu pasti sembuh. Pasti,” wanita itu ikut menangis, kembali memeluk anak semata wayangnya.

Tapi Hyunjin menggeleng. “Eomma … aku takut … aku takut kehilangan Jungkook … aku takut kehilangan semuanya …”

“Jungkook?”

Hyunjin tahu dia kelepasan bicara, tapi dia tidak peduli. Dia terus menangis, tanpa menjawab keheranan ibunya.

“A-apa aku akan dioperasi?”

“B-bagaimana kamu bisa tahu?”

“Tentu saja aku tahu. Kapan, Eomma?

“Nanti malam.”

“Bisakah sebelum itu aku pulang ke desa? Aku harus menemui beberapa orang.”

Tapi ibunya menggeleng dengan tegas. “Kamu harus banyak istirahat. Jangan membantah.”

Tatapan Hyunjin berubah nanar. Sesuatu yang berat seakan jatuh di dasar jantungnya. Bahkan dia rasa penyakitnya semakin parah saja.

Seandainya kamu tahu, jangan datang kemari. Aku tidak ingin kamu melihatku.

***

“Apa? Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal!!??”

“M-maafkan aku …”

“Kenapa!??”

“Hyunjin melarangku. Dia tidak ingin kamu tahu.”

Jungkook mengacak-acak rambut dengan frustasi. Dia memukul tembok dengan keras sebagai pelampiasan amarahnya sampai tangannya mmebiru. Taehyung, Jimin dan Jaejoon berusaha menenangkan anak itu.

“Jeon Jung Kook, kendalikan emosimu!” kata Taehyung. “Kita baru dengar dia sakit. Masih ada waktu untuk mendatanginya, oke?”

“Tapi bahkan kita tidak tahu ketua kelas kita ada di mana,” protes Jaejoon.

“Kita akan cari tahu.”

“Bagaimana keadaannya saat kemarin kamu menemaninya?” bisik Jimin pada Chanmi.

“Dia terus menerus batuk darah,” Chanmi berkata lirih. “Suaranya serak, dan dia terus menerus sakit kepala.”

“A-ada lagi?”

“Dia kelihatan lesu, ujung-ujung jarinya terlihat aneh, dan dia bilang tulangnya nyeri …”

“Apa dia berkata padamu sejak kapan dia menderita sakitnya?”

“Tidak. Tapi dia bilang dia pindah kemari karena ingin menyegarkan diri dari sakitnya. Itu dua tahun yang lalu.”

Suara keras Taehyung mengagetkan mereka berdua.

“Kita ke Seoul, oke? Dia berasal dari sana kan?”

Jaejoon mengangguk. “Tapi kita tidak tahu di rumah sakit mana dia dirawat.”

“Kita akan tanyakan pada Choi seonsaengnim. Dia wali kelas kita, tentunya dia tahu,” kata Taehyung. “Kalian berdua, apa mau ikut?”

Chanmi mengangguk secara otomatis. Jimin tampak berpikir-pikir, tapi akhirnya dia juga setuju.

“Jungkook-ah, tenangkan dirimu.”

Jungkook merasa telinganya ditulikan dan pikirannya dibuntukan. Dia tidak peduli dengan percakapan kawan-kawannya, hanya ada wajah Hyunjin yang mengisi kepalanya.

.

Tampaknya hari itu Dewi Fortuna tidak memihak mereka. Mereka tidak bisa mencuri waktu untuk bolos, jadi keempatnya baru bisa ke Seoul saat pulang sekolah. Mereka juga berhasil mengorek keterangan dari Choi seonsaengnim.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pertemanan mereka; tidak ada yang berbicara saat perjalanan menuju Seoul. Semuanya khawatir dengan kondisi Jungkook yang terus mencemaskan Hyunjin.

“Ssst, aku tak menyangka. Berandalan seperti dia bisa luluh karena cinta,” Jaejoon berbisik pada Jimin.

“Mungkin suatu hari nanti kamu akan merasakannya,” Jimin balas berbisik.

“Mana mungkin. Dengan siapa, ha!?”

Jimin menunjuk Chanmi dengan dagunya, membuat Jaejoon menimpuk kepala anak itu.

“Kalian diamlah,” kata Taehyung tiba-tiba. “Jangan main-main saat ada orang yang sedang kesulitan.”

.

Pukul delapan malam.

Hyunjin akan memulai operasinya satu jam lagi. Dia duduk dengan gelisah di atas ranjang, sementara ibunya sibuk berbicara di telepon.

“Hyunjin-ah, ayahmu terjebak macet,” kata wanita itu dengan gelisah. “Kamu … taka pa-apa kan?”

Hyunjin mengangguk kecil. Aku tak apa-apa …

“Istirahatlah, ibu akan keluar sebentar.”

Hyunjin sekali lagi mengangguk. Kini dia sendirian di ruangan itu, menunggu satu jam–yang dia pikir akan menjadi satu jam terakhirnya dengan gelisah. Pikirannya mulai bercabang. Pada saat pertama kali pindah, pertama kali bersekolah di desa, pertama kali bertemu Jungkook …

Mengingat Jungkook membuat kepalanya menjadi sakit. Dia tahu lambat laun Jungkook telah berubah menjadi orang yang lebih baik, tidak senakal dulu. Tangannya yang berkeringat menggenggam kalung pemberian Jungkook. Dia masih ingat, kalung itu diberikan Jungkook saat untuk pertama kalinya dia bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya.

“Sedang apa dia saat ini? Apakah dia memikirkanku? Andai saja aku punya kesempatan untuk bicara dengannya sekali lagi …”

Kalimat terakhir it uterus berkembang dalam otak Hyunjin. Tiba-tiba sebuah ide terlintas. Ide yang … gila. Hyunjin menyambar secarik kertas dan pensil di atas buffet, lalu menulis sesuatu. Setelah itu, secara diam-diam dia mengintip keluar setelah mencabut infusnya.

Aman, pikir gadis polos itu.

Hyunjin mengambil jaket dan topinya, lalu berlari keluar. Tidak sekedar keluar kamar, dia juga keluar dari rumah sakit itu. Apapun yang terjadi, aku harus bertemu Jungkook!

***

Taehyung menyetop taksi untuk mereka berlima. Jungkook sudah tidak bisa diajak kompromi dan bicara lagi, pikiran anak itu benar-benar kacau. Keempat kawannya pun tidak ada yang berusaha mengajaknya bicara. Mereka masih diam dalam perjalanan menuju KyungHee Medical Centre yang berada di daerah Dongdae-mun, Seoul.

Ketika kelima anak itu sibuk dalam pikiran masing-masing, taksi direm secara mendadak. Entah apa yang membuatnya begitu, tapi benturan keras terdengar dari bagian belakang.

Rupanya sebuah truk pengangkut barang tidak sempat mengerem, sehingga menabrak taksi yang juga menabrak seseorang di depannya itu.

Kawasan itu mendadak ramai. Jaejoon, Jimin, dan Jungkook terpental keluar, sementara Jimin dan Chanmi terjepit di dalam taksi. Tapi keadaan mereka tidak ada yang benar-benar bagus.

Jaejoon tak sadarkan diri, sedangkan Jimin tidak bisa merasakan kakinya. Jungkook masih bisa berdiri walau kepalanya pening. Dia menerobos kerumunan untuk melihat siapa yang menjadi korban tabrakan barusan.

“Uh?” Jungkook tidak bisa melihat dengan jelas. Dia hanya melihat sebuah titik berkilau di atas aspal, di tengah kerumunan orang-orang. “G-Genie? Jinnie? Nuna? Itukah kau …?”

***

Matahari kembali terbenam. Jungkook yang tadinya tertidur mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau. Dia bangun dan segera duduk di atas batu datar itu, sekali lagi menatap pemandangan favoritnya.

Jungkook mencoba untuk tersenyum, tapi tidak bisa. Peristiwa bulan lalu masih membuatnya shock, ketika taksi yang dia naiki malah menabrak pacarnya sendiri …

Saat itu Jungkook kehilangan kesadarannya. Ketika dia berhasil membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah wajah keempat temannya. Wajah penuh kesetiaan.

“Kamu hidup …”

“Baguslah. Aku tidak mau menangis kalau ternyata kamu tidak selamat.”

“Jungkook-ah, kamu selamat.”

“Jangan bengong begitu. Ini kami!”

Jungkook menatap kawan-kawannya satu persatu. Chanmi menerima jahitan panjang dari pelipis sampai pipinya. Mata kirinya ditutup perban. Kepala Jaejoon dilingkari perban dengan bercak obat.

Sementara Taehyung harus menggendong lengannya kemana-mana, dengan luka kecil di dahi. Jimin memakai gips pada kaki kanannya. Jungkook merasa bersalah melihat mereka semua.

“Sudah berapa lama aku berbaring?”

“Seminggu,” jawab Taehyung. “Satu hal yang membuatku senang. Selama itu kita tidak sekolah!”

Mereka tertawa keras.

“Mana … mana Hyunjin?” Jungkook baru teringat.

Keempat temannya berhenti tertawa. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Tidak ada yang berani bicara untuk saat itu.

“Jungkook-ah, apa penglihatanmu jelas?” tanya Chanmi tiba-tiba. Ketiga anak laki-laki di sampingnya memberikan death glare.

“T-tentu saja. Ada apa?” tanya Jungkook heran.

“I … itu … itu …”

“Itu mata Hyunjin,” kata Jaejoon dengan segera. Kini dia yang diberi ancaman melalui death glare.

“M-mata Hyunjin …?”

“Sebelum kabur, dia menulis pesan. Jika dia meninggal, dia ingin anggota tubuhnya disumbangkan pada orang yang membutuhkan,” Taehyung menjelaskan dengan pahit.

“J-jadi dia … dia … dia benar-benar orang yang ditabrak taksi itu?”

Keempat kawannya mengangguk dengan serempak. Jungkook merasa tubuhnya teriris-iris.

.

Tapi sekarang aku di sini, Jungkook membatin dalam hati. Hyunjin memberikan hidupnya untukku. Aku harus menyukurinya.

Jungkook menatap langit jingga. Dia teringat pesan Hyunjin yang disampaikan melalui Chanmi.

“Apabila sesuatu yang buruk terjadi, kalian berempat adalah orang yang selalu ada untuknya. Buatlah Jungkook tersenyum.”

Tenang saja, Hyunjin. Aku akan tersenyum

Jungkook mengangkat tangannya. Tangan itu menggenggam kalung yang pernah dia berikan pada Hyunjin. Dia pikir dia akan menyimpan kalung itu, menurutnya tidak ada yang pantas mendapat gelar Genie lagi selain Hyunjin.

“Nam Hyun Jin, kamu telah mengabulkan satu permintaanku. Permintaan besar, yaitu berubah menjadi anak yang lebih baik.

“Kamu memacariku karena satu alasan mulia: tidak ingin melihatku sebagai seorang berandalan. Saat itu kamu tidak mengatakan kamu mencintaiku, tapi aku tahu isi kepalamu.

“Bahkan itu lebih baik. Karena kamu menyatakan cintamu dengan perbuatan, bukan dengan kata-kata …”

It’s more than words
It’s more than what you say
It’s the thing you do

Now that I’ve tried to,
talk to you and make you understand
All you have to do, is close your eyes
And just reach out your hands, and touch me,
Hold me close don’t ever let me go

What would you say if I took those words away?
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you …

(Westlife – More than Words)

***

 The End

a/n: annyeong._.)/// cuma mau ngasih tau kalo FF ini bikinnya dadakan pake banget jadi maafkan kalo jalan ceritanya absurd. i need your comment TwT

Advertisements

Author:

see; listen; write; shut up. ainayaazk on twit.

10 thoughts on “[Oneshoot] More than Words

  1. entah kenapa romance-tragis-ngenes nya kurang greget gimana gitu,
    apa karna engga terlalu ngebias si kookie kali ya? #abaikan ini
    sekali-kali buat yang fantasy gitu dong kak? (ini banyak maunya XD)

    1. namanya juga dadakan ._.
      aku ngebias kookie TwT
      fantasy? aku agak lemah di genre ini tapi mungkin suatu hari nanti bisa dicoba x3

  2. Sad ending, sepertinya suskes membuat hatiku tersentuh. Alur ceritanya agak cepat, semangat membuat fanficnya, dan sepertinya aku mulai suka dengan fanficmu, Author hehehe…

  3. lagi lagi dibikin nangis sama kamu mba:’v udah dua kali loh mba :33 jahat asli. masa sad ending mulu.. bikiin lagi pliis. chanyeol atau luhan wiis. usahain happy ending wqwq. udah komen tuh. panjang malah:v hohoo.

  4. udah dua kali loh mba aku dibikin nangis sama kamu:v bikin jangan sad ending pliis. chanyeol atau luhan boleh wees. wqwq:v udah komen tuh. panjang malah:v

Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s